Senin, 17 Oktober 2011

Karya Ilmiah Siswa Masuk Finalis Harapan II (LKTIS Jurusan Fisika UNDIKSHA Singaraja 2011))






KARYA TULIS ILMIAH SISWA


POTENSI AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR DALAM MENINGKATKAN  PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI




Disusun oleh:

Ni Nyoman Chintya Ari Putri (NIS. 696)
I Wayan Yoga Pratama (NIS. 764)






SMA NEGERI 2 BUSUNGBIU
BULELENG
2011
...................................................................................................................................................................


LEMBAR PERNYATAAN

€Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang saya susun merupakan hasil karya saya sendiri dengan bimbingan guru pendamping. Karya tulis ilmiah hasil penelitian kajian pustaka ini disusun untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah siswa yang diselenggarakan HMJ Pendidikan Fisika, FMIPA, Undiksha Singaraja.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian karya tulis ini bukan hasil karya saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.



Puncaksari,  Agustus 2011               
Yang memberi pernyataan,



Ni Nyoman Chintya Ari Putri
NIS. 696






-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





HALAMAN PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH SISWA
 

1.  Judul
:
Potensi Air Kencing Kambing Sebagai Pupuk Organik Cair Dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman Kopi
2.  Bidang Sains
:
Bidang Pertanian
3.  Ketua Penyusun
:

  1. Nama Lengkap
:
Ni Nyoman Chintya Ari Putri
  1. N I S
:
696
  1. Asal Sekolah
:
SMAN 2 Busungbiu
  1. Alamat Sekolah
:
Desa Puncaksari, Kec. Busungbiu, Buleleng
  1. No. HP
:
087862167144
  1. Alamat email
:
4.  Anggota  Penyusun
:
1 Orang
5.  Guru Pendamping
:

  1. Nama Lengkap
:
I Made Mudiana
  1. N I P
:
19810805 200501 1 008
  1. No. HP
:
081916388949
  1. Telp. Sekolah
:
Desa Puncaksari, Kec. Busungbiu, Buleleng




Menyetujui
Guru Pendamping



I Made Mudiana, S.Pd
NIP. 19810805 200501 1 008
Puncaksari,  Agustus 2011
Ketua Penyusun



Ni Nyoman Chintya Ari Putri
NIS. 696









Mengetahui
Kepala SMAN 2 Busungbiu



I Made Pasek, S.Pd.
NIP. 19640622 198803 1 011








------------------------------------------------------------------------------------------------------------







KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur dipanjatkan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa), karena penelitian ini dapat diselesaikan.
Penelitian hasil eksperimen ini disusun untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undiksha Tahun 2011, yang diselenggarakan HMJ Pendidikan Fisika, FMIPA, Undiksha Singaraja.
Laporan Penelitian ini dapat dituntaskan, berkat dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1.      Panitia LKTI Sains Undiksha Singaraja;
2.      Kepala SMA Negeri 2 Busungbiu;
3.      Guru pembimbing Kelompok Ilmiah Siswa SMAN 2 Busungbiu (KIS SMANDAB);
4.      Kelompok Tani Kopi ”Werdi Gopala” desa Pucaksari dan Tunas Mekar di Dayang Desa Sepang;
5.      Guru, pegawai, dan siswa SMA Negeri 2 Busungbiu.
Semoga Penelitian ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan siswa pada khususnya dalam rangka menumbuhkembangkan kreativitas, daya analisis kritis, serta kemampuan menulis dan meneliti.




                                                                              Puncaksari,  Agustus 2011
                                                                              Ketua Peneliti,


 
                                                                              Ni Nyoman Chintya Ari Putri
                                                                              NIS. 696






--------------------------------------------------------------------------------------------------------------






DAFTAR ISI


Halaman
HALAMAN JUDUL
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
i
LEMBAR PERNYATAAN
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
ii
LEMBAR PENGESAHAN
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
iii
KATA PENGANTAR
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
iv
DAFTAR ISI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
v
ABSTRAK
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
vi
BAB I PENDAHULUAN
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1
1.1 Latar Belakang Masalah
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
1
1.2 Perumusan Masalah
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3
1.3 Tujuan Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.4 Manfaat Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4
1.5 Keterbatasan Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6
2.1   Limbah dan Pencemaran Air
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6
2.2   Pengertian dan Produksi Biogas
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7
2.3   Fermentasi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8
2.4   Gas-Gas Hasil Fermentasi Bakteri
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
9
2.5   Effective Microorganisms 4 (EM-4)
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
12
2.6   Hipotesis Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13
BAB III METODE PENELITIAN
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
14
3.1  Rancangan Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
14
3.2  Variabel Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
3.3  Teknik Pengumpulan Data
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
3.4  Instrumen Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
15
3.5  Teknik Analisis Data
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
16
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
17
4.1  Hasil Penelitian
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
17
4.2 Uji Hipotesis
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
18
4.3  Pembahasan
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
19
BAB V PENUTUP
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
23
5.1  Simpulan
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
23
5.2  Saran-Saran
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
23
DAFTAR PUSTAKA
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
25
LAMPIRAN-LAMPIRAN








-------------------------------------------------------------------------------------------------------------




POTENSI AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR
DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI

Oleh
Ni Nyoman Chintya Ari Putri dan I Wayan Yoga Pratama
(Siswa SMA Negeri 2 Busungbiu, Buleleng, Bali)


ABSTRAK

Penelitian ini merupakan hasil kajian pustaka yang bertujuan untuk 1) mengetahui pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair bagi tanaman kopi, 2) mengetahui potensi  air kencing kambing sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi, 3) mengetahui manfaat air kencing kambing sebagai pestisida pecegah hama penyakit pada tanaman kopi.
Penelitian ini dilaksanakan di desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi dan wawancara. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan anlisis kualitatif deskriptif berdasarkan kajian pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) air kencing (urine) kambing bermanfaat sebagai pupuk organik cair (biourine) yang memiliki kandungan unsur hara kompleks antaralain bahan Organik, Nitrogen (N), P2O5, K2O, CaO. Kandungan unsur hara nitrogen sebesar 1,47%, 2) pengaplikasian air kencing kambing sebagai pupuk organik cair berpotensi meningkatkan produktivitas  tanaman kopi hingga mencapai 30,44% lebih tinggi dari penerapan pupuk kandang dari faeces kambing dan 9,38% dari pada pupuk kimia (urea), 3) air kencing kambing dapat bermanfaat sebagai sebagai pestisida pecegah hama penyakit pada tanaman kopi serta ramah lingkungan.


Kata kunci:  Air Kencing Kambing, Pupuk Organik Cair (bio urine)









--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POTENSI AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR DALAM MENINGKATKAN  PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang                                                                        
            Desa Pucaksari terkenal dengan perkebunan kopinya merupakan suatu daerah pedesaan yang terletak di ujung barat kabupaten Buleleng berbatasan dengan kabupaten Tabanan (Pupuan) bagian barat dan kabupaten Jembrana tepatnya di kecamatan Busungbiu, kabupaten Buleleng (Bali). Selain kopi Pucaksari dikenal sebagai daerah pertanian perkebunan coklat, cengkeh dan perternakan kambing. Secara geografis lokasi penelitian ini merupakan dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1850 m dari permukaan laut dengan keadaan lingkungan yang dingin (sejuk) suhu rata-rata mencapai 25OC–28OC (Depdiknas; 2010). Kondisi lingkungan Pucaksari sangat cocok untuk membudidayakan tanaman kopi kususnya dari jenis Arabika dan Robusta sekaligus cocok pula mengembangbiakkan peternakan kambing.
Budidaya tanaman kopi menjadi keunikan tersendiri bagi penduduk sekitar karena dihubungkan dengan kegiatan peternakan kambing. Oleh sebab itu, sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani kopi dan beternak kambing. Penghasilan petani masyarakatnya bersumber dari hasil pertanian kopi dan peternakan kambing sangat menjanjikan. Tanaman kopi Robusta merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia. Di samping itu, tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di desa Pucaksari. Hasil penelitian menunjukan tanaman kopi jenis Arabika saat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg (Asmacs, 2008).  Harga kopi Arabika tak jauh beda dengan kopi Robusta di pasaran dunia mencapai 2.536 U$D/MT (metrik ton), naik 8,28% dari awal April 2011 yang berada pada level 2.389 U$D/MT (Admin, 2010).
Dari hasil observasi dan wawancara terhadap para petani, sebagian besar petani mengungkapkan bahwa berternak kambing dan berkebun kopi merupakan dua kegiatan yang saling menguntungkan. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan kami bahwa petani kopi di desa Pucaksari melakukan budidaya tanaman kopi dengan memanfaatkan tanaman lamtoro sebagai pohon penaung kopi.  Pemilihan lamtoro sebagai tanaman penaung kopi tersebut memiliki fungsi ganda, pertama; sebagai tanaman penaung melindungi tanaman kopi dari sinar matahari langsung, kedua; sebagai pemasok unsur hara sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak kambing. Di lain pihak dalam menyuburkan tanaman kopi petani biasanya menggunakan kotoran (faeces) dan sisa pakan ternak kambing sebagai pupuk kandang dan kompos, disamping menggunakan pupuk kimia.
            Petani di desa Pucaksari biasanya memelihara ternak kambing disekitar lahan perkebunan kopi yang dekat sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, setiap petani rata-rata memelihara 10 ekor kambing. Biasanya petani menempatkan kandang ternaknya dekat dengan perkebunan, hal ini bertujuan untuk memudahkan para petani dalam memasok dan menggunakan kotoran kambing untuk mepupuk kopinya. Umumnya pemanfaatan kotoran kambing lebih banyak dilakukan dibandingkan air kencing (urine) dari hewan tersebut. Hal yang menarik peneliti amati dari para petani kopi di desa Pucaksari yaitu urine kambing mereka salurkan dalam sebuah bak penampungan untuk menghindari bau menyengat dari air kencing tersebut agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Meskipun hal tersebut telah dilakukan tetap saja menimbulkan masalah bau tidak enak di sekitar area perkebunan dan pemukiman penduduk. Pencemaran udara akibat gas dan bau kencing yang membusuk bagi para petani merupakan masalah yang biasa terjadi. Hal ini menunjukan bahwa petani menganggap urine kambing merupakan zat sisa yang tidak bermanfaat.
Dalam pertumbuhan tanaman kopi sangat diperlukan unsur hara seperti nitrogen (N) yang terkandung dalam pupuk organik maupun anorganik. Kebutuhan akan unsur hara bagi tanaman kopinya para petani terkadang menggunaan pupuk anorganik (pupuk kimia). Penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang telah diketahui oleh para petani dapat merusak struktur tanah dan merusak kandungan unsur hara dalam tanah. Hasil wawancara yang peneliti dapatkan, beberapa petani lebih cendrung memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk kandang. Kotoran hasil ekskresi dari hewan kambing telah lama dikenal sebagai pupuk organik dikalangan para petani. Selai itu petani juga menggunakan pupuk kompos yang berasal dari daun-daun tumbuhan dan sisa pakan ternak kambing. Hal inilah memotivasi para petani kopi secara langsung memelihara ternak kambing untuk diambil kotorannya untuk dijadikan pupuk.
Kebutuhan dan ketersediaan akan bahan pupuk menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi petani di desa Pucaksari. Mahalnya harga pupuk kompos olahan dan pupuk kimia di pasaran menjadi permasalahan serius bagi petani kopi di desa Pucaksari. Pengolahan kotoran (faeces) kambing sebagai pupuk dilakukan petani kopi setempat masih bersifat sederhana. Terkadang petani biasa langsung menggunakan kotoran kambing yang telah hancur bercampur dengan tanah dan sisa pakan ternak untuk memupuk tanaman kopi, atau melalui pengolahan kotoran kambing melalui pengomposan menjadi pupuk kandang (pukan). Walaupun demikian kadar hara pukan kambing mengandung kalium yang relatif lebih tinggi dan kadar hara N dan P hampir sama dengan pupuk kandang lain, kotoran kambing mengandung bahan kering dan nitrogen berturut-turut 40-50% dan 1,2-2,1% (Hartatik et.al., 2005).
Populasi hewan ternak kambing mendominasi di daerah Pucaksari, jumlah ternak di desa Pucaksari yaitu kambing mencapai 80%, babi 10%, ayam 10%.  Populasi kambing yang cukup tinggi menjadi hewan penyumbang kotoran tertinggi terhadap pasokan faeces sebagai bahan pupuk kandang. Produksi faeces relatif lebih sedikit ketimbang urine kambing yang mencapai 0,26-2,5 liter/hari, dengan kandungan nitrogen 0,51-0,71% (BPTP Bali; 2006). Urine kambing yang tidak mendapat penanganan lebih lanjut dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan sekitar dan berdampak negatif bagi kesehatan. Rendahnya pengetahuan para petani menyebabkan permasalahan urine tidak mendapat penanganan yang lebih serius. Bau busuk air kencing kambing menjadi hal biasa bagi para petani, hal ini menunjukan bahwa masyarakat sekitar belum tahu tentang manfaat air kencing kambing yang dapat diolah menjadi pupuk organik cair (biourine).
Dilain pihak dewasa ini isu tentang lingkungan dan gerakan “back to nature” makin santer digalakan. Dalam mengantisifasi masalah pencemaran lingkungan dan kelangkaan pupuk salah satu alternatifnya adalah penggunaan limbah kambing sebagai pupuk organik cair. Pengolahan urine kambing sebagai pupuk organik cair dan manfaatnya terhadap tanaman kopi belum begitu dikenal oleh petani kopi di desa Pucaksari. Peneliti sebagai generasi muda (pelajar) sekaligus sebagai bagian dari masyarakat di daerah tersebut termotivasi untuk melakukan penelitian terkait dengan permasalahan yang dihadapi oleh petani kopi dan peternak kambing di wilayah setempat. Dengan demikian peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui manfaat dari air kencing kambing sebagai pupuk organik cair dan potensinya bagi produktivitas tanaman kopi serta dampaknya terhadap lingkungan hidup.

1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang  tersebut rumusan masalah yang diuraikan adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair bagi tanaman kopi?
2)      Bagaimana potensi air kencing kambing dalam meningkatkan produktivitas tanaman kopi?
3)      Apakah air kencing kambing bermanfaat sebagai pecegah hama penyakit pada tanaman kopi?

1.3  Tujuan Penelitian
             Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1)   Mengetahui pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair bagi tanaman kopi;
2)   Mengetahui potensi  air kencing kambing sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi di desa Pucaksari;
3)   Mengetahui manfaat air kencing kambing sebagai pestisida pecegah hama penyakit pada tanaman kopi.

1.4  Manfaat Penelitian
     Penulisan karya ilmiah ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan dalam rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undiksha Tahun 2011. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
       1) Memberikan data dan informasi yang bermanfaat bagi para praktisi peneliti dalam bidang pertanian 
           akan  manfaat air kencing kambing sebagai pupuk organik cair yang ramah lingkungan;
       2) Memberikan data dan informasi kepada petani kopi khususnya di desa Pucaksari untuk 
          lebih memanfaatkan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair serta menumbuhkan kesadaran bagi 
          para petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dapat merusak unsur hara/kesuburan tanah
          dalam jangka panjang;
       3)Sebagai wahana bagi para siswa untuk menambah wawasan dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah.

1.5  Keterbatasan Penelitian
            Penelitian/pengamatan untuk karya tulis ini yaitu terbatas untuk mengetahui potensi air kencing kambing dan penerapannya sebagai pupuk organik cair dalam meninggkatkatkan produktivitas tanaman kopi. Dalam penelitian ini mengkaji masalah–masalah yang terkait dengan pertanian kopi serta hubungannya dengan kegiatan peternakan kambing yang dilakukan oleh petani kopi di wilayah desa Pucaksari, kecamatan Busungbiu, kabupaten Buleleng (Bali) yang diadakan selama bulan Juli 2011.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair (Biourine)
                        Hasil penelitian menunjukan urine ternak mengandung nitrogen (N) mencapai 10 gr/l, sebagian besar berbentuk urea. Urine ternak juga mengandung sejumlah unsur-unsur mineral (S, P, K, Cl, dan Na) dalam jumlah bervariasi tergantung pada jenis dan makanan ternak, keadaan fisiologi dan iklim (Hartatik & Widowati; 2005). Urine sebagian besar terdiri atas 90-95% air, kandungan urea mencapai 70% dan sejumlah nitrogen. Urine kambing mengandung unsur hara yang cukup tinggi dibandingkan dengan faeces. Studi menunjukan bahwa urine kambing merupakan zat sisa yang dapat diolah menjadi pupuk biourine yang memiliki manfaat lebih dari pada pupuk kandang. Kandungan unsur hara pada urine kambing untuk zat nirogen (N) mencapai 1,47% yang sangat bermanfaat terhadap pertumbuhan tanaman kopi. Kandungan unsur hara pada beberapa urine ternak adalah bervariasi seperti ditunjukan pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan unsur hara urine ternak
Jenis
Ternak
Kadar
Air
Bahan organik
N
P2O5
K2O
CaO
Sapi
Kerbau
Kambing
Babi
Kuda
92
81
86,3
96,6
89,6
4,8
-
9,3
1,5
8,0
1,21
0,6
1,47
0,83
1,29
0,01
sedikit
0,05
0,10
0,01
1,35
1,61
1,96
0,99
1,39
1,35
sedikit
0,16
0,02
0,45
       Sumber:  (Hartatik et.al., 2005)
Unsur hara tersebut dibutuhkan oleh mikroba dan pertumbuhan tanaman, dengan demikian tidak menutup kemungkinan pemanfaatan air kencing kambing akan memberikan dampak positif dalam budidaya dan meningkatkan produktivitas tanaman kopi. Pemanfaatan urine ternak khususnya kambing yang diolah menjadi biourine memberikan dampak positif terhadap lingkungan, yaitu terjaganya kesetabilan unsur hara pada tanah. Demikian pula, pengaplikasian biourine lebih mudah dari pada menggunakan pupuk kandang.
Penggunaan urine kambing sebagai pupuk organik cair (biourine) belum begitu dikenal oleh para petani di desa Pucaksari. Hasil observasi dan wawancara peneliti terhadap kelompok tani dan ternak “Werdi Gopala”, Br. Pucaksari Desa Pucaksari mendapatkan temuan yang tidak berbeda jauh dari kelompok “Tunas Mekar” Desa Sepang. Kedua kelompok tani tersebut memanfaatkan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair (biourine) dari limbah kambing yang berada di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Kedua kelompok tani tersebut mengembangkan biourine yang dihasilkan dari 10–15 ekor ternak kambing yang dipelihara. Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa kotoran kambing yaitu urine dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yaitu biourine. Proses pengolahan urine dari kotoran kambing menjadi biourine yang dilakukan oleh kelompok tani tersebut melalui beberapa tahapan yaitu: persiapan, pemeliharaan, dan pengolahan.
Persiapan yaitu mengumpulkan alat dan bahan untuk kandang peternakan kambing, alat dan bahan yang diperlukan dalam pengolahan urine dan menentukan lokasi peternakan. Pemeliharaan yaitu kegiatan perawatan ternak kambing, menyuplai bahan pakan dan menjaga kesehatan ternak. Pengolahan yaitu menyalurkan, menampung kotoran kambing yaitu urine dalam bak penampungan untuk diolah menjadi biourine. Teknik produksi biourine dari air kencing kambing dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      Tampung urine kambing di bak penampungan;
2)      Masukkan fermenter (Romino Bacillus dan Azotobacter). Untuk 800 liter urine difermentasi dengan Romino Bacillus dan Azotobacter dengan perbandingan 1:1;
3)      Diaduk dengan aerator selama 3-4 jam;
4)      Permukaan bak penampungan ditutup dengan penutup (triplek, plastik) dan didiamkan hingga 7 hari;
5)      Pada hari ke-8, urine diputar dengan pompa, sehingga naik-turun di tangga “penipisan” selama 6-7 jam. Pemutaran ini dimaksudkan untuk menguapkan amoniak (yang bersifat racun);
6)      Urine bisa diambil dan dikemas (dalam wadah) untuk selanjutnya diaplikasikan pada tanaman ataupun disimpan.




Mekanisme pengolahan air kencing kambing menjadi biourine yang dilakukan oleh kelompok petani kopi “Werdi Gopala” desa Pucaksari dapat dilihat pada gambar 1.

   Gambar 1. Proses pengolahan urine menjadi biourine

Air kencing kambing merupakan zat sisa dari proses pencernaan kambing yang berupa zat cair yang dikenal sebagai “urine”. Urine dihasilkan oleh organ ginjal melalui  proses ekskresi pada hewan kambing  yang dikeluarkan dari dalam tubuh kambing melalui saluran kemih. Air kencing kambing dapat dijumpai dalam jumlah besar selain kotoran kambing. Berdasarkan kajian pustaka yang kami lakukan kami mendapatkan bahwa ginjal kambing mampu memproduksi urine dengan kadar nitrogen yang cukup tinggi sekitar 1,47%.  Kandungan unsur hara dalam air kencing kambing di tunjukkan dalam tabel 2.
                                     
                                      Tabel 2. Kandungan hara pada urine kambing
 
Jenis zat
Persentase (%)
Kadar air
Bahan Organik
Nitrogen (N)
P2O5
K2O
CaO
86,3
9,30
1,47
0,50
1,96
0,16
            (Hartatik & Widowati; 2005)
Dari kandungan unsur hara yang dimiliki oleh air kencing kambing seperti yang ditunjukan pada tabel di atas komposisi Nitrogen yang paling tinggi. Nitrogen merupakan unsur utama yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Produksi faeces relatif lebih sedikit ketimbang urine kambing yang mencapai 0,26-2,5 liter/hari, dengan kandungan nitrogen 0,51-0,71% (BPTP Bali;2006). Mempertimbangkan kajian tersebut air kencing kambing sangat berpotensi untuk dijadikan pupuk organik cair sebagai alternatif pengganti pupuk kimia sekaligus mengatasi kelangkaan pukam bagi petani di desa Pucaksari.

2.2  Potensi air kencing kambing sebagai pupuk organik cair (Biourine)
       dalam meningkatkan produktivitas kopi

            Berdasarkan hasil wawancara dengan para petani dan observasi dilakukan terhadap 50 orang petani kopi di desa Pucaksarai terungkap bahwa semua petani kopi tersebut menyatakan belum pernah mengaplikasikan biourine terhadap tanaman kopinya. 20% petani menyatakan hampir 5 tahun terakhir telah menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing, dan 30% petani mulai beralih menggunakan pupuk kimia (urea) karena terbatasnya pupuk pukam untuk memupuk tanaman kopinya.
Kelompok tani kopi “Werdi Gopala” dan “Tunas Mekar” pemakai biourine mengungkapkan bahwa aplikasi biourine lebih praktis. Pengaplikasian pupuk organik cair biourine dari urine kambing, dilakukan melalui dua tehnik yaitu: penyiraman dan penyemprotan. Penyiraman bertujuan untuk memupuk tanaman, sedangkan penyemprotan bertujuan untuk menguatkan daun, bunga, dan buah kopi. Aplikasi biourine per Ha/tahun dijelaskan sebagai berikut:
1)    Melalui 3 tahap, yaitu: (1) beberapa hari setelah panen, (2) diulang setelah 2 bulan kemudian, (3) diulang 2–3  bulan kemudian;
2)  Sebelum digunakan, biourine dapat dicampur dengan biokultur dari faeces kambing dengan perbandingan 1:2. Sebaiknya, sebelum di campur biokultur disaring, agar serat–serat  dari faeces yang ada dapat dipisahkan agar tidak mempersulit dalam aplikasi  pemupukan, terutama jika manggunakan sprayer;
3) Setelah biourine dan biokultur tercampur, kemudian campuran tersebut dicampur air dengan perbandingan 1:1 sehinga pupuk cair tersebut siap digunakan;
4)  Pada pemupukan tahap III, pupuk cair dicampur dengan 1 butir kuning telur untuk setiap 60 liter biourine dan pupuk siap diaplikasikan pada tanaman.
Dosis  pengaplikasian biourine dapat dijelaskan sebagai berikut:
1)      Tahap I (April)                 : 2 liter + 2 kg  kompos/pohon untuk memupuk
                                                 bagian akar tanaman;
2)      Tahap II (Juni)                 : 2 liter/pohon untuk daun dan buah;
3)      Tahap III (Oktober)         : 2 liter/pohon untuk bagian akar dan daun.
            Dari pengamatan yang peneliti lakukan mendapatkan data bahwa pengunaan  pupuk organik cair dari air kencing kambing (biourine) pada tanaman kopi meberikan dampak positif  bagi pertumbuhan tanaman kopi. Dilihat dari struktur fisik tanaman, kopi yang dipupuk memakai biourine tampak lebih subur, ukuran batang tanaman tampak lebih besar dan kuat dibandingkan kopi yang memamakai pupuk kandang maupun pupuk kimia. Di samping itu, kondisi seperti daun tampak lebih hijau, memiliki bunga dan buah yang lebih lebat. Secara kuantitas jumlah bunga dan buah pada kopi yang dipupuk dengan biourine lebih tahan dan lebih banyak, per pohonnnya dengan perbandingan 3:1 antara pemakaian biourine dan tanpa biourine. Struktur buah kopi memakai biourine memiliki rendemen (berat massa) lebih besar mencapai dua kali lipat dari pemakaian pukan. Gambar 2 adalah tanaman kopi yang dipupuk memakai biourine.
    


Gambar 2. Struktur tanaman kopi memakai biourine

Hasil wawancara terhadap petani kopi di desa Pucaksari pemakai pupuk kandang dan kimia di bandingkan dengan hasil kopi yang diperoleh oleh kelompok tani Werdi Gopala pemakai pupuk organik cair biourine dari air kencing kambing menunjukan data produktivitas yang berbeda. Produktivitas kopi mentah (glondong merah) oleh pemberian biourine, pupuk kandang dari faeces kambing dan pupuk kimia berdasarkan umur tanaman kopi dari tahun 2006-2011 ditunjukan seperti pada tabel 3.
Tabel 3.
Produktivitas kopi mentah dari pemakaian pupuk organik cair dari urine kambing (biourine), pukan kambing dan pupuk kimia
Umur Tanaman Kopi
4 th
5 th
6 th
7 th
8 th
Pupuk organik cair dari urine kambing (Biourine)
Jumlah (kwintal/ Ha)
20
40
55
65
80
Pukan kompos padat
Jumlah (kwintal/ Ha)
15
30
45
50
60
Pupuk Kimia/ Urea
Jumlah (kwintal/ Ha)
20
35
50
60
70
           
Data produktivitas kopi berdasarkan umur tanaman melalui penerapan biourine dengan dosis 6 liter + 2 kg kompos padat/pohon per tahun, dapat menghasilkan produksi 30,44% lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pukan (kompos padat) yang dosisnya 10-12  kg/pohon per tahun dan 9,38% dari pupuk kimia. Berdasarkan hasil wawancara dengan para petani kopi pemakai pukam, pupuk kimia dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan tanaman. Jumlah dan jenis pupuk yang diaplikasikan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah kopi yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini diketahui air kencing kambing berpotensi meningkatkan produktivitas kopi lebih baik dari pada kotoran kambing dan pupuk kimia. Penggunaan faeces sebagai pukam dan pupuk kimia belum mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh petani kopi dalam meningkatkan produktivitas tanaman kopi. Disamping itu pemakaian kedua pupuk tersebut (pupuk kandang dan pupuk kimia) menimbulkan berbagai permasalahan pencemaran terhadap lingkungan. Dengan pemanfaatan air kencing kambing sebagai biourine petani kopi dapat memenuhi kebutuhan hara dapat tertutupi dari satu siklus proses penerapan biourine baik sebagai pupuk maupun sebagai pengendali hama dan penyakit.
Sejalan dengan hasil penelitian Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, urine kambing rupanya mengandung kadar nitrogen 36,90% sampai 37,31%, fosfat 16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67% sampai 1,27%. Kandungan nitrogen pada urine kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP36, yaitu 36% nitrogen, atau tak beda jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45%. Dengan demikian, para petani tak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, cukup tanaman dipupuk dengan urine kambing. Dua kilogram pupuk urea bisa diganti dan setara dengan 2,5 liter urine kambing. Data menyebutkan, satu ekor kambing menghasilkan 2,5 liter urine per hari dan menghasilkan kotoran (faeces) sebanyak satu karung selama dua bulan. Untuk kebutuhan pupuk lahan satu hektar per satu musim tanam sekitar dua ton urea. Dengan memelihara 10 ekor kambing, kebutuhan pupuk untuk satu hektar lahan sudah teratasi.
Pemanfaatan air kencing kambing dan penerapannya sebagai pupuk organik cair (biourine) dapat memaksimalkan pertumbuhan dan produktivitas buah kopi di desa Pucaksari, kecamatan Busungbiu, kabupaten Buleleng. Produktivitas kopi yang memakai biourine dari air kencing kambing lebih tinggi mencapai  30,44% dari pemakaian pukan kambing.  Hal ini disebabkan karena pemakaian biourine mampu meningkatkan rendemen buah kopi yang dihasilkan. Hasil penelitian ini bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh BPTP Bali tahun 2006 yang memperoleh hasil peningkatan produksi kopi yang menggunakan biourine 30%-35%  lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pukan (kompos padat) yang dosisnya 10-12 kg/pohon per tahun.
Proporsi produktivitas kopi pemakaian biourine dari air kencing kambing dan pukan kambing dari tahun 2006-2011 di desa Pucaksari ditunjukan seperti pada grafik gambar 3.

                                                   Jumlah (Kwintal/ha)

                                                                                                                                                                                                                        Umur Kopi ( Th )


Gambar 3. Grafik produktivitas kopi di desa Pucaksari

Selain dapat meningkatkan produktivitas, pemanfaatan air kencing kambing menjadi biourine dapat memberikan keuntungan ekonomis, dalam aplikasinya ke tanaman lebih mudah tanpa memerlukan banyak tenaga serta volume penggunaan lebih hemat karena dilakukan melalui penyemprotan ke tanaman. Dari prinsip ekologi penerapan biourine pada tanaman kopi tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan sehingga sejalan dengan isu “back to nature” permintaan akan bahan pangan organik yang bebas bahan kimia. Secara khusus pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair (biourine) akan dapat menjawab permasalahan yang sedang dihadapi petani kopi di desa Pucaksari dan sekitarnya.

2.3  Manfaat air kencing kambing sebagai pestisida yang ramah lingkungan
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara berikut dapat diuraikan manfaat biourine yaitu:
1) Pemakaian biourine mampu mempercepat pertumbuhan tanaman kopi, sebagai penyubur tanaman kopi, sebagai penguat batang tanaman kopi, sebagai penguat daun, bunga, dan  buah.
2) Urine kambing yang telah diolah menjadi biourine mengandung unsur hara (N, C, dan K) yang lebih kompleks dibandingkan pukan (faeces) kambing. Kandungan N pada biourine meningkat rata-rata 0,34% menjadi 0,89% sebagai hasil dari fermentasi oleh mikroba Azotobacter.
3) Untuk memenuhi pupuk bagi tanaman kopi penggunaan biourine dalam aplikasinya lebih mudah karena dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak perlu membuat lubang pada tanah, tidak banyak memerlukan tenaga, dan harganya relatif lebih murah.
4) Pengendalian terhadap hama penyakit yaitu:
 a. Hama Bubuk Buah, penyebab adalah sejenis kumbang kecil, menyerang buah muda dan tua, pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang;
b.   Hama Bubuk Cabang (Xyloborus Moliberus), menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3-7 dari pucuk kopi, daun menjadi kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering, pengendalian sama seperti pada hama bubuk buah;
b.   Penyakit: penyakit karat daun, penyebab adalah sejenis Cendawan. Tanda serangan ada  bercak-bercak  merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.
Dampak lingkungan yang ditimbulkan dari penggunaan biourine relatif lebih sedikit dibandingkan penggunaan pukan faeces kambing maupun pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia dan pukan faeces kambing tanpa melalui pengomposan akan memperlambat proses dekomposisi. Akibatnya menimbulkan pencemaran lingkungan (udara dan tanah) di sekitar lahan pertanian. Unsur kimia dari pupuk kimia yang sukar terurai dalam jangka panjang akan merusak kandungan hara di dalam tanah, struktur tanah menjadi padat dan tidak subur.
Penggunaan biourine dapat menjaga kelestarian lingkungan karena komposisi kimia biourine mudah untuk diserap oleh tanaman dan unsur hara yang terkandung dalam biourine lebih mudah terurai. Dampak  penggunaan biourine terhadap tanaman kopi tidak memiliki efek merugikan bagi tanaman kopi. Biourine merupakan pupuk organik cair dapat menjaga struktur organik dan kesuburan tanah dalam jangka panjang serta mencegah pengikisan tanah.

BAB III
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Air kencing (urine) kambing bermanfaat sebagai pupuk organik cair (biourine) yang memiliki kandungan unsur hara kompleks antaralain bahan Organik, Nitrogen (N), P2O5, K2O, CaO. Kandungan unsur hara nitrogen sebesar 1,47%  lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kandang (kompos padat) dari faeces kambing;
2) Pengaplikasian air kencing kambing sebagai pupuk organik cair berpotensi meningkatkan produktivitas  tanaman kopi hingga mencapai 30,44% lebih tinggi dari penerapan pupuk kandang dari faeces kambing dan 9,38% dari pada pupuk kimia (urea);
3)  Air kencing kambing dapat bermanfaat sebagai sebagai pestisida pecegah hama penyakit pada tanaman kopi serta ramah lingkungan.

4.2  Saran-saran
  1)Dengan mengetahui manfaat air kencing kambing dan kegunaannya sebagai biourine memiliki kandungan unsur hara yang  baik untuk tanaman kopi disarankan bagi para petani kopi untuk beralih menggunakan pupuk organik cair dari air kencing kambing (biourine) untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopinya;
 2) Diharapkan kepada para petani untuk beralih menggunakan biourine sebagai pupuk yang ramah lingkungan dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan dengan tidak memakai pupuk kimia;
 3)  Dalam penelitian ini hanya menggunakan air kencing kambing sebagai biourine, sehingga disarankan pula bagi peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut potensi air kencing kambing maupun hewan ternak lain serta penerapannya.

DAFTAR PUSTAKA

Admin (2010). Kenaikan harga kopi 2011. Available from: URL:http://coffeetoffee.co.id/2010/11/07/coffee-toffeemitos-kopi-no-1/,
           Accessed Agustus 5, 2011.
Asmacs’s. (2008). Budidaya tanaman kopi. Artikel penelitian. from: WordPress.com weblog. Accessed Agustus 5, 2011.
Balitnah. 2010. Kandungan unsur hara pada ternak. Laporan Penelitian Balai Penelitian Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. Available from: URL: Balitnah@indo.net.id, Accessed Agustus 5, 2011.
BPTP Bali. 2010. Laporan penelitian balai pengkajian teknologi pertanian. Available from: URL:Bptp-bali@litbang.deptan.go.id, Accessed Agustus 1, 2011.
BPTP dan Bapeda Provinsi Bali. 2006. Budi daya tanaman kopi. Laporan penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Bapeda Bali.
Depdiknas. 2010. Kurikulum SMA Negeri 2 Busungbiu Tahun Pelajaran 2010/2011. Dokumen KTSP. Kabupaten Buleleng (tidak dipublikasikan).
Dikti. 2008. Pedoman umum kompetisi karya tulis mahasiswa (KKTM) bidang IPA, IPS dan Ilmu Pendidikan. Dikti, Depdiknas, Jakarta.
Hartatik, W., & Widowati, L.R. Pupuk kandang. Available from: URL:http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/pupuk/pupuk4.pdf, Accessed Agustus 5, 2011.
Hartatik, W., D Setyorini, L.R, Sri Widati, U. Jaenudin. 2005. Pengaruh kompos pupuk organik yang diperkaya dengan bahan mineral dan pupuk hayati terhadap sifat-sifat tanah serapan hara dan produksi sayuran organik. Laporan penelitian. Proyek Program Pengembangan Agribisnis Balai Penelitian Tanah (tidak dipublikasikan).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar