KARYA TULIS ILMIAH SISWA
POTENSI
AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI
PUPUK ORGANIK CAIR DALAM MENINGKATKAN
PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI
Disusun oleh:
Ni Nyoman Chintya Ari Putri (NIS. 696)
I Wayan Yoga Pratama (NIS. 764)
SMA
NEGERI 2 BUSUNGBIU
BULELENG
2011
...................................................................................................................................................................
€Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan
sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang saya susun merupakan hasil karya saya
sendiri dengan bimbingan guru pendamping. Karya tulis ilmiah hasil penelitian kajian
pustaka ini disusun untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah siswa yang
diselenggarakan HMJ Pendidikan Fisika, FMIPA, Undiksha Singaraja.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian karya
tulis ini bukan hasil karya saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Puncaksari, Agustus
2011
Yang memberi pernyataan,
Ni Nyoman Chintya Ari Putri
NIS. 696
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
HALAMAN PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH SISWA
1. Judul
|
:
|
Potensi Air Kencing
Kambing Sebagai Pupuk Organik Cair Dalam Meningkatkan Produktivitas Tanaman
Kopi
|
||
2. Bidang Sains
|
:
|
Bidang Pertanian
|
||
3. Ketua Penyusun
|
:
|
|||
|
:
|
Ni Nyoman Chintya Ari Putri
|
||
|
:
|
696
|
||
|
:
|
SMAN 2 Busungbiu
|
||
|
:
|
Desa Puncaksari, Kec. Busungbiu, Buleleng
|
||
|
:
|
087862167144
|
||
|
:
|
|||
4.
Anggota Penyusun
|
:
|
1 Orang
|
||
5.
Guru Pendamping
|
:
|
|||
|
:
|
I Made Mudiana
|
||
|
:
|
19810805 200501 1 008
|
||
|
:
|
081916388949
|
||
|
:
|
Desa Puncaksari, Kec. Busungbiu, Buleleng
|
||
Menyetujui
Guru Pendamping
I Made Mudiana, S.Pd
NIP. 19810805 200501 1 008
|
Puncaksari, Agustus 2011
Ketua Penyusun
Ni Nyoman Chintya Ari Putri
NIS. 696
|
|||
Mengetahui
Kepala SMAN 2 Busungbiu
I Made Pasek, S.Pd.
NIP. 19640622 198803 1 011
|
||||
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur dipanjatkan
kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Kuasa), karena penelitian ini
dapat diselesaikan.
Penelitian hasil eksperimen ini disusun untuk
mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undiksha Tahun 2011, yang
diselenggarakan HMJ Pendidikan Fisika, FMIPA, Undiksha Singaraja.
Laporan Penelitian ini dapat
dituntaskan, berkat dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Panitia LKTI Sains Undiksha Singaraja;
2.
Kepala SMA Negeri 2 Busungbiu;
3. Guru pembimbing Kelompok Ilmiah Siswa SMAN
2 Busungbiu (KIS SMANDAB);
4. Kelompok Tani Kopi ”Werdi Gopala” desa
Pucaksari dan Tunas Mekar di Dayang Desa Sepang;
5. Guru, pegawai, dan siswa SMA Negeri 2
Busungbiu.
Semoga Penelitian ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan siswa pada khususnya
dalam rangka menumbuhkembangkan kreativitas, daya analisis kritis, serta
kemampuan menulis dan meneliti.
Puncaksari, Agustus 2011
Ketua
Peneliti,
Ni Nyoman Chintya Ari
Putri
NIS. 696
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POTENSI AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR
DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI
Oleh
Ni Nyoman Chintya Ari Putri dan I Wayan Yoga Pratama
(Siswa SMA Negeri 2
Busungbiu, Buleleng, Bali)
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan
hasil kajian pustaka yang bertujuan untuk 1) mengetahui
pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair bagi tanaman kopi,
2) mengetahui potensi air kencing
kambing sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan produktivitas tanaman
kopi, 3) mengetahui manfaat air kencing kambing sebagai pestisida pecegah hama
penyakit pada tanaman kopi.
Penelitian ini dilaksanakan di desa
Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Data
penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi dan wawancara. Selanjutnya data
yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan anlisis kualitatif deskriptif
berdasarkan kajian pustaka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) air kencing (urine) kambing bermanfaat sebagai pupuk organik cair (biourine)
yang memiliki kandungan unsur hara kompleks antaralain bahan Organik, Nitrogen
(N), P2O5, K2O, CaO. Kandungan
unsur hara nitrogen sebesar 1,47%, 2) pengaplikasian air kencing kambing
sebagai pupuk organik cair berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman kopi hingga mencapai 30,44% lebih
tinggi dari penerapan pupuk kandang dari faeces kambing dan 9,38% dari pada
pupuk kimia (urea), 3) air kencing kambing dapat bermanfaat sebagai sebagai
pestisida pecegah hama penyakit pada tanaman kopi serta ramah lingkungan.
Kata kunci:
Air Kencing Kambing, Pupuk Organik Cair (bio urine)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POTENSI AIR KENCING KAMBING
SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KOPI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa
Pucaksari terkenal dengan perkebunan kopinya merupakan suatu daerah pedesaan
yang terletak di ujung barat kabupaten Buleleng berbatasan dengan kabupaten Tabanan
(Pupuan) bagian barat dan kabupaten Jembrana tepatnya di kecamatan Busungbiu,
kabupaten Buleleng (Bali). Selain kopi Pucaksari dikenal sebagai daerah pertanian
perkebunan coklat, cengkeh dan perternakan kambing. Secara geografis lokasi
penelitian ini merupakan dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1850 m dari
permukaan laut dengan keadaan lingkungan yang dingin (sejuk) suhu rata-rata
mencapai 25OC–28OC (Depdiknas; 2010). Kondisi lingkungan Pucaksari
sangat cocok untuk membudidayakan tanaman kopi kususnya dari jenis Arabika dan Robusta
sekaligus cocok pula mengembangbiakkan peternakan kambing.
Budidaya tanaman kopi
menjadi keunikan tersendiri bagi penduduk sekitar karena dihubungkan dengan
kegiatan peternakan kambing. Oleh sebab itu, sebagian besar masyarakatnya berprofesi
sebagai petani kopi dan beternak kambing. Penghasilan petani masyarakatnya
bersumber dari hasil pertanian kopi dan peternakan kambing sangat menjanjikan. Tanaman
kopi Robusta merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai
nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia. Di samping itu, tanaman
kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di desa
Pucaksari. Hasil penelitian menunjukan tanaman kopi jenis Arabika saat ini mempunyai nilai
ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun
1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg (Asmacs,
2008). Harga kopi Arabika tak
jauh beda dengan kopi Robusta di pasaran dunia mencapai 2.536 U$D/MT (metrik
ton), naik 8,28% dari awal April 2011 yang berada pada level 2.389 U$D/MT
(Admin, 2010).
Dari hasil observasi
dan wawancara terhadap para petani, sebagian besar petani mengungkapkan bahwa
berternak kambing dan berkebun kopi merupakan dua kegiatan yang saling
menguntungkan. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan kami bahwa petani kopi di
desa Pucaksari melakukan budidaya tanaman kopi dengan memanfaatkan tanaman lamtoro sebagai pohon penaung kopi. Pemilihan lamtoro sebagai tanaman penaung kopi
tersebut memiliki fungsi ganda, pertama; sebagai tanaman penaung melindungi
tanaman kopi dari sinar matahari langsung, kedua; sebagai pemasok unsur hara sekaligus
dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak kambing. Di lain pihak dalam
menyuburkan tanaman kopi petani biasanya menggunakan kotoran (faeces) dan sisa pakan ternak kambing
sebagai pupuk kandang dan kompos, disamping menggunakan pupuk kimia.
Petani
di desa Pucaksari biasanya memelihara ternak kambing disekitar lahan perkebunan
kopi yang dekat sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, setiap petani rata-rata
memelihara 10 ekor kambing. Biasanya petani menempatkan kandang ternaknya dekat
dengan perkebunan, hal ini bertujuan untuk memudahkan para petani dalam memasok
dan menggunakan kotoran kambing untuk mepupuk kopinya. Umumnya pemanfaatan
kotoran kambing lebih banyak dilakukan dibandingkan air kencing (urine) dari hewan tersebut. Hal yang
menarik peneliti amati dari para petani kopi di desa Pucaksari yaitu urine
kambing mereka salurkan dalam sebuah bak penampungan untuk menghindari bau
menyengat dari air kencing tersebut agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Meskipun hal tersebut telah dilakukan tetap saja menimbulkan masalah bau tidak
enak di sekitar area perkebunan dan pemukiman penduduk. Pencemaran udara akibat
gas dan bau kencing yang membusuk bagi para petani merupakan masalah yang biasa
terjadi. Hal ini menunjukan bahwa petani menganggap urine kambing merupakan zat
sisa yang tidak bermanfaat.
Dalam pertumbuhan
tanaman kopi sangat diperlukan unsur hara seperti nitrogen (N) yang terkandung dalam pupuk organik maupun anorganik. Kebutuhan
akan unsur hara bagi tanaman kopinya para petani terkadang menggunaan pupuk
anorganik (pupuk kimia). Penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang telah
diketahui oleh para petani dapat merusak struktur tanah dan merusak kandungan
unsur hara dalam tanah. Hasil wawancara yang peneliti dapatkan, beberapa petani
lebih cendrung memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk kandang. Kotoran
hasil ekskresi dari hewan kambing telah lama dikenal sebagai pupuk organik dikalangan
para petani. Selai itu petani juga menggunakan pupuk kompos yang berasal dari
daun-daun tumbuhan dan sisa pakan ternak kambing. Hal inilah memotivasi para
petani kopi secara langsung memelihara ternak kambing untuk diambil kotorannya
untuk dijadikan pupuk.
Kebutuhan dan
ketersediaan akan bahan pupuk menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi
petani di desa Pucaksari. Mahalnya harga pupuk kompos olahan dan pupuk kimia di
pasaran menjadi permasalahan serius bagi petani kopi di desa Pucaksari. Pengolahan
kotoran (faeces) kambing sebagai pupuk dilakukan petani kopi setempat masih
bersifat sederhana. Terkadang petani biasa langsung menggunakan kotoran kambing
yang telah hancur bercampur dengan tanah dan sisa pakan ternak untuk memupuk
tanaman kopi, atau melalui pengolahan kotoran kambing melalui pengomposan
menjadi pupuk kandang (pukan). Walaupun demikian kadar hara pukan kambing
mengandung kalium yang relatif lebih
tinggi dan kadar hara N dan P hampir sama dengan pupuk kandang lain, kotoran
kambing mengandung bahan kering dan nitrogen berturut-turut 40-50% dan 1,2-2,1%
(Hartatik et.al., 2005).
Populasi hewan
ternak kambing mendominasi di daerah Pucaksari, jumlah ternak di desa Pucaksari
yaitu kambing mencapai 80%, babi 10%, ayam 10%.
Populasi kambing yang cukup tinggi menjadi hewan penyumbang kotoran
tertinggi terhadap pasokan faeces sebagai bahan pupuk kandang. Produksi faeces
relatif lebih sedikit ketimbang urine kambing yang mencapai 0,26-2,5 liter/hari,
dengan kandungan nitrogen 0,51-0,71%
(BPTP Bali; 2006). Urine kambing yang tidak mendapat penanganan lebih lanjut
dapat menimbulkan masalah pencemaran lingkungan sekitar dan berdampak negatif
bagi kesehatan. Rendahnya pengetahuan para petani menyebabkan permasalahan
urine tidak mendapat penanganan yang lebih serius. Bau busuk air kencing
kambing menjadi hal biasa bagi para petani, hal ini menunjukan bahwa masyarakat
sekitar belum tahu tentang manfaat air kencing kambing yang dapat diolah
menjadi pupuk organik cair (biourine).
Dilain pihak
dewasa ini isu tentang lingkungan dan gerakan “back to nature” makin santer
digalakan. Dalam mengantisifasi masalah pencemaran lingkungan dan kelangkaan
pupuk salah satu alternatifnya adalah penggunaan limbah kambing sebagai pupuk
organik cair. Pengolahan urine kambing sebagai pupuk organik cair dan
manfaatnya terhadap tanaman kopi belum begitu dikenal oleh petani kopi di desa
Pucaksari. Peneliti sebagai generasi muda (pelajar) sekaligus sebagai bagian
dari masyarakat di daerah tersebut termotivasi untuk melakukan penelitian terkait
dengan permasalahan yang dihadapi oleh petani kopi dan peternak kambing di
wilayah setempat. Dengan demikian peneliti tertarik melakukan penelitian untuk
mengetahui manfaat dari air kencing kambing sebagai pupuk organik cair dan potensinya
bagi produktivitas tanaman kopi serta dampaknya terhadap lingkungan hidup.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut rumusan masalah
yang diuraikan adalah sebagai berikut:
1)
Bagaimana pemanfaatan air kencing
kambing sebagai pupuk organik cair bagi tanaman kopi?
2)
Bagaimana potensi air kencing kambing
dalam meningkatkan produktivitas tanaman kopi?
3)
Apakah air kencing kambing
bermanfaat sebagai pecegah hama penyakit pada tanaman kopi?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini
adalah:
1) Mengetahui pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik
cair bagi tanaman kopi;
2) Mengetahui potensi air
kencing kambing sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan produktivitas
tanaman kopi di desa Pucaksari;
3) Mengetahui manfaat air kencing kambing sebagai pestisida pecegah hama
penyakit pada tanaman kopi.
1.4 Manfaat Penelitian
Penulisan karya ilmiah ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan
dalam rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Sains Undiksha Tahun 2011. Hasil penelitian
diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1) Memberikan data dan informasi
yang bermanfaat bagi para praktisi peneliti dalam bidang pertanian
akan manfaat air kencing kambing sebagai pupuk organik cair yang ramah lingkungan;
akan manfaat air kencing kambing sebagai pupuk organik cair yang ramah lingkungan;
2) Memberikan data dan informasi
kepada petani kopi khususnya di desa Pucaksari untuk
lebih memanfaatkan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair serta menumbuhkan kesadaran bagi
para petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dapat merusak unsur hara/kesuburan tanah
dalam jangka panjang;
lebih memanfaatkan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair serta menumbuhkan kesadaran bagi
para petani untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dapat merusak unsur hara/kesuburan tanah
dalam jangka panjang;
3)Sebagai wahana bagi para siswa
untuk menambah wawasan dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah.
1.5 Keterbatasan Penelitian
Penelitian/pengamatan untuk karya tulis ini yaitu terbatas untuk
mengetahui potensi air kencing kambing dan penerapannya sebagai pupuk organik
cair dalam meninggkatkatkan produktivitas tanaman kopi. Dalam penelitian ini
mengkaji masalah–masalah yang terkait dengan pertanian kopi serta hubungannya
dengan kegiatan peternakan kambing yang dilakukan oleh petani kopi di wilayah
desa Pucaksari, kecamatan Busungbiu, kabupaten Buleleng (Bali) yang diadakan
selama bulan Juli 2011.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pemanfaatan air
kencing kambing sebagai pupuk organik cair (Biourine)
Hasil penelitian
menunjukan urine ternak mengandung nitrogen (N) mencapai 10 gr/l, sebagian besar
berbentuk urea. Urine ternak juga mengandung sejumlah unsur-unsur mineral (S,
P, K, Cl, dan Na) dalam jumlah bervariasi tergantung pada jenis dan makanan
ternak, keadaan fisiologi dan iklim (Hartatik &
Widowati; 2005).
Urine sebagian besar terdiri atas 90-95% air, kandungan urea mencapai 70% dan
sejumlah nitrogen. Urine kambing mengandung unsur hara
yang cukup tinggi dibandingkan dengan faeces. Studi menunjukan bahwa urine
kambing merupakan zat sisa yang dapat diolah menjadi pupuk biourine yang
memiliki manfaat lebih dari pada pupuk kandang. Kandungan unsur hara pada urine
kambing untuk zat nirogen (N) mencapai 1,47% yang sangat bermanfaat terhadap
pertumbuhan tanaman kopi. Kandungan unsur hara pada beberapa urine ternak adalah
bervariasi seperti ditunjukan pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan unsur hara urine ternak
Jenis
Ternak
|
Kadar
Air
|
Bahan
organik
|
N
|
P2O5
|
K2O
|
CaO
|
Sapi
Kerbau
Kambing
Babi
Kuda
|
92
81
86,3
96,6
89,6
|
4,8
-
9,3
1,5
8,0
|
1,21
0,6
1,47
0,83
1,29
|
0,01
sedikit
0,05
0,10
0,01
|
1,35
1,61
1,96
0,99
1,39
|
1,35
sedikit
0,16
0,02
0,45
|
Sumber: (Hartatik et.al.,
2005)
Unsur hara tersebut dibutuhkan oleh mikroba dan pertumbuhan tanaman, dengan demikian tidak menutup
kemungkinan pemanfaatan air kencing kambing akan memberikan dampak positif
dalam budidaya dan meningkatkan produktivitas tanaman kopi. Pemanfaatan urine ternak khususnya kambing yang diolah menjadi
biourine memberikan dampak positif terhadap lingkungan, yaitu terjaganya
kesetabilan unsur hara pada tanah. Demikian pula, pengaplikasian biourine lebih
mudah dari pada menggunakan pupuk kandang.
Penggunaan urine
kambing sebagai pupuk organik cair (biourine) belum begitu dikenal oleh para
petani di desa Pucaksari. Hasil observasi dan wawancara peneliti terhadap
kelompok tani dan ternak “Werdi Gopala”, Br. Pucaksari Desa Pucaksari
mendapatkan temuan yang tidak berbeda jauh dari kelompok “Tunas Mekar” Desa
Sepang. Kedua kelompok tani tersebut memanfaatkan air kencing kambing sebagai
pupuk organik cair (biourine) dari limbah kambing yang berada di Kecamatan
Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Kedua kelompok
tani tersebut mengembangkan biourine yang dihasilkan dari 10–15 ekor ternak
kambing yang dipelihara. Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa kotoran
kambing yaitu urine dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yaitu
biourine. Proses pengolahan urine dari kotoran kambing menjadi biourine yang
dilakukan oleh kelompok tani tersebut melalui beberapa tahapan yaitu:
persiapan, pemeliharaan, dan pengolahan.
Persiapan yaitu
mengumpulkan alat dan bahan untuk kandang peternakan kambing, alat dan bahan
yang diperlukan dalam pengolahan urine dan menentukan lokasi peternakan. Pemeliharaan yaitu kegiatan perawatan
ternak kambing, menyuplai bahan pakan dan menjaga kesehatan ternak. Pengolahan yaitu menyalurkan, menampung
kotoran kambing yaitu urine dalam bak penampungan untuk diolah menjadi
biourine. Teknik produksi biourine dari air kencing kambing dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1)
Tampung urine kambing di bak
penampungan;
2)
Masukkan fermenter (Romino Bacillus dan Azotobacter). Untuk 800 liter urine difermentasi dengan Romino Bacillus dan Azotobacter dengan perbandingan 1:1;
3)
Diaduk dengan aerator selama 3-4
jam;
4)
Permukaan bak penampungan
ditutup dengan penutup (triplek, plastik) dan didiamkan hingga 7 hari;
5)
Pada hari ke-8, urine diputar
dengan pompa, sehingga naik-turun di tangga “penipisan” selama 6-7 jam.
Pemutaran ini dimaksudkan untuk menguapkan amoniak (yang bersifat racun);
6)
Urine bisa diambil dan dikemas
(dalam wadah) untuk selanjutnya diaplikasikan pada tanaman ataupun
disimpan.
![]() |
Gambar 1. Proses
pengolahan urine menjadi biourine
Air kencing kambing merupakan zat sisa
dari proses pencernaan kambing yang berupa zat cair yang dikenal sebagai
“urine”. Urine dihasilkan oleh organ ginjal melalui proses ekskresi pada hewan kambing yang dikeluarkan dari dalam tubuh kambing
melalui saluran kemih. Air kencing kambing dapat dijumpai dalam jumlah besar
selain kotoran kambing. Berdasarkan kajian pustaka yang kami lakukan kami
mendapatkan bahwa ginjal kambing mampu memproduksi urine dengan kadar nitrogen
yang cukup tinggi sekitar 1,47%. Kandungan unsur hara dalam air kencing kambing
di tunjukkan dalam tabel 2.
Tabel 2. Kandungan hara pada urine kambing
Jenis zat
|
Persentase (%)
|
Kadar air
Bahan Organik
Nitrogen (N)
P2O5
K2O
CaO
|
86,3
9,30
1,47
0,50
1,96
0,16
|
(Hartatik & Widowati; 2005)
Dari kandungan unsur hara yang
dimiliki oleh air kencing kambing seperti yang ditunjukan pada tabel di atas
komposisi Nitrogen yang paling tinggi. Nitrogen merupakan unsur utama yang
sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Produksi
faeces relatif lebih sedikit ketimbang urine kambing yang mencapai 0,26-2,5
liter/hari, dengan kandungan nitrogen
0,51-0,71% (BPTP Bali;2006). Mempertimbangkan kajian
tersebut air kencing kambing sangat berpotensi untuk dijadikan pupuk organik
cair sebagai alternatif pengganti pupuk kimia sekaligus mengatasi kelangkaan
pukam bagi petani di desa Pucaksari.
2.2 Potensi air kencing kambing sebagai pupuk
organik cair (Biourine)
dalam
meningkatkan produktivitas kopi
Berdasarkan hasil wawancara dengan para petani dan observasi
dilakukan terhadap 50 orang petani kopi di desa Pucaksarai terungkap bahwa
semua petani kopi tersebut menyatakan belum pernah mengaplikasikan biourine
terhadap tanaman kopinya. 20% petani menyatakan hampir 5 tahun terakhir telah
menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing, dan 30% petani mulai beralih
menggunakan pupuk kimia (urea) karena terbatasnya pupuk pukam untuk memupuk
tanaman kopinya.
Kelompok tani
kopi “Werdi Gopala” dan “Tunas Mekar” pemakai biourine mengungkapkan bahwa
aplikasi biourine lebih praktis. Pengaplikasian pupuk organik cair biourine
dari urine kambing, dilakukan melalui dua tehnik yaitu: penyiraman dan
penyemprotan. Penyiraman bertujuan untuk memupuk tanaman, sedangkan
penyemprotan bertujuan untuk menguatkan daun, bunga, dan buah kopi. Aplikasi
biourine per Ha/tahun dijelaskan sebagai berikut:
1)
Melalui 3 tahap, yaitu: (1)
beberapa hari setelah panen, (2) diulang setelah 2 bulan kemudian, (3) diulang
2–3 bulan kemudian;
2) Sebelum digunakan, biourine
dapat dicampur dengan biokultur dari faeces kambing dengan perbandingan 1:2.
Sebaiknya, sebelum di campur biokultur disaring, agar serat–serat dari faeces yang ada dapat dipisahkan agar
tidak mempersulit dalam aplikasi
pemupukan, terutama jika manggunakan sprayer;
3) Setelah biourine dan biokultur
tercampur, kemudian campuran tersebut dicampur air dengan perbandingan 1:1
sehinga pupuk cair tersebut siap digunakan;
4) Pada pemupukan tahap III, pupuk
cair dicampur dengan 1 butir kuning telur untuk setiap 60 liter biourine dan
pupuk siap diaplikasikan pada tanaman.
Dosis pengaplikasian biourine dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1)
Tahap I (April) :
2 liter + 2 kg kompos/pohon untuk
memupuk
bagian akar tanaman;
2)
Tahap II (Juni) : 2 liter/pohon untuk daun dan buah;
3)
Tahap III (Oktober) : 2 liter/pohon untuk bagian akar dan
daun.
Dari pengamatan yang peneliti
lakukan mendapatkan data bahwa pengunaan
pupuk organik cair dari air kencing kambing (biourine) pada tanaman kopi
meberikan dampak positif bagi
pertumbuhan tanaman kopi. Dilihat dari struktur fisik tanaman, kopi yang
dipupuk memakai biourine tampak lebih subur, ukuran batang tanaman tampak lebih
besar dan kuat dibandingkan kopi yang memamakai pupuk kandang maupun pupuk
kimia. Di samping itu, kondisi seperti daun tampak lebih hijau, memiliki bunga
dan buah yang lebih lebat. Secara kuantitas jumlah bunga dan buah pada kopi
yang dipupuk dengan biourine lebih tahan dan lebih banyak, per pohonnnya dengan
perbandingan 3:1 antara pemakaian biourine dan tanpa biourine. Struktur buah
kopi memakai biourine memiliki rendemen (berat massa) lebih besar mencapai dua
kali lipat dari pemakaian pukan. Gambar 2 adalah tanaman kopi yang dipupuk
memakai biourine.
Gambar 2. Struktur tanaman
kopi memakai biourine
Hasil wawancara
terhadap petani kopi di desa Pucaksari pemakai pupuk kandang dan kimia di
bandingkan dengan hasil kopi yang diperoleh oleh kelompok tani Werdi Gopala
pemakai pupuk organik cair biourine dari air kencing kambing menunjukan data
produktivitas yang berbeda. Produktivitas kopi mentah (glondong merah) oleh
pemberian biourine, pupuk kandang dari faeces kambing dan pupuk kimia berdasarkan
umur tanaman kopi dari tahun 2006-2011 ditunjukan seperti pada tabel 3.
Tabel 3.
Produktivitas kopi mentah
dari pemakaian pupuk organik cair dari urine kambing (biourine), pukan kambing dan
pupuk kimia
Umur Tanaman Kopi
|
4 th
|
5 th
|
6 th
|
7 th
|
8 th
|
Pupuk organik cair
dari urine kambing (Biourine)
Jumlah (kwintal/
Ha)
|
20
|
40
|
55
|
65
|
80
|
Pukan
kompos padat
Jumlah
(kwintal/ Ha)
|
15
|
30
|
45
|
50
|
60
|
Pupuk
Kimia/ Urea
Jumlah
(kwintal/ Ha)
|
20
|
35
|
50
|
60
|
70
|
Data
produktivitas kopi berdasarkan umur tanaman melalui penerapan biourine dengan
dosis 6 liter + 2 kg kompos padat/pohon per tahun, dapat menghasilkan produksi 30,44%
lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pukan (kompos padat) yang dosisnya
10-12 kg/pohon per tahun dan 9,38% dari
pupuk kimia. Berdasarkan hasil wawancara dengan para petani kopi pemakai pukam,
pupuk kimia dipengaruhi oleh kondisi dan pertumbuhan tanaman. Jumlah dan jenis
pupuk yang diaplikasikan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas buah kopi
yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil
temuan dalam penelitian ini diketahui air kencing kambing berpotensi
meningkatkan produktivitas kopi lebih baik dari pada kotoran kambing dan pupuk
kimia. Penggunaan faeces sebagai pukam dan pupuk kimia belum mampu menjawab
tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh petani kopi dalam meningkatkan
produktivitas tanaman kopi. Disamping itu pemakaian kedua pupuk tersebut (pupuk
kandang dan pupuk kimia) menimbulkan berbagai permasalahan pencemaran terhadap
lingkungan. Dengan pemanfaatan air kencing kambing sebagai biourine petani kopi
dapat memenuhi kebutuhan hara dapat tertutupi dari satu siklus proses penerapan
biourine baik sebagai pupuk maupun sebagai pengendali hama dan penyakit.
Sejalan dengan
hasil penelitian Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang,
urine kambing rupanya mengandung kadar nitrogen 36,90% sampai 37,31%, fosfat
16,5-16,8 ppm, dan kalsium 0,67% sampai 1,27%. Kandungan nitrogen pada urine
kambing sama dengan yang ada pada pupuk SP36, yaitu 36% nitrogen, atau tak beda
jauh dengan kandungan nitrogen pupuk urea, yakni 45%. Dengan demikian, para
petani tak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, cukup tanaman dipupuk
dengan urine kambing. Dua kilogram pupuk urea bisa diganti dan setara dengan
2,5 liter urine kambing. Data menyebutkan, satu ekor kambing menghasilkan 2,5
liter urine per hari dan menghasilkan kotoran (faeces) sebanyak satu karung
selama dua bulan. Untuk kebutuhan pupuk lahan satu hektar per satu musim tanam
sekitar dua ton urea. Dengan memelihara 10 ekor kambing, kebutuhan pupuk untuk
satu hektar lahan sudah teratasi.
Pemanfaatan air
kencing kambing dan penerapannya sebagai pupuk organik cair (biourine) dapat
memaksimalkan pertumbuhan dan produktivitas buah kopi di desa Pucaksari,
kecamatan Busungbiu, kabupaten Buleleng. Produktivitas kopi yang memakai
biourine dari air kencing kambing lebih tinggi mencapai 30,44% dari pemakaian pukan kambing. Hal ini disebabkan karena pemakaian biourine
mampu meningkatkan rendemen buah kopi yang dihasilkan. Hasil penelitian ini
bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh BPTP Bali tahun 2006 yang
memperoleh hasil peningkatan produksi kopi yang menggunakan biourine 30%-35% lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan
pukan (kompos padat) yang dosisnya 10-12 kg/pohon per tahun.
Proporsi
produktivitas kopi pemakaian biourine dari air kencing kambing dan pukan
kambing dari tahun 2006-2011 di desa Pucaksari ditunjukan seperti pada grafik
gambar 3.
Jumlah (Kwintal/ha)
|
Umur Kopi ( Th )
|
Gambar 3. Grafik produktivitas kopi di desa Pucaksari
Selain dapat meningkatkan produktivitas,
pemanfaatan air kencing kambing menjadi biourine dapat memberikan keuntungan
ekonomis, dalam aplikasinya ke tanaman lebih mudah tanpa memerlukan banyak
tenaga serta volume penggunaan lebih hemat karena dilakukan melalui
penyemprotan ke tanaman. Dari prinsip ekologi penerapan biourine pada tanaman
kopi tidak menimbulkan dampak pencemaran lingkungan sehingga sejalan dengan isu
“back to nature” permintaan akan bahan pangan organik yang bebas bahan kimia.
Secara khusus pemanfaatan air kencing kambing sebagai pupuk organik cair
(biourine) akan dapat menjawab permasalahan yang sedang dihadapi petani kopi di
desa Pucaksari dan sekitarnya.
2.3 Manfaat air kencing kambing sebagai pestisida yang
ramah lingkungan
Berdasarkan
hasil pengamatan dan wawancara berikut dapat diuraikan manfaat biourine yaitu:
1) Pemakaian biourine
mampu mempercepat pertumbuhan tanaman kopi, sebagai penyubur tanaman kopi, sebagai
penguat batang tanaman kopi, sebagai penguat daun, bunga, dan buah.
2) Urine kambing yang
telah diolah menjadi biourine mengandung unsur hara (N, C, dan K) yang lebih
kompleks dibandingkan pukan (faeces) kambing. Kandungan N pada biourine
meningkat rata-rata 0,34% menjadi 0,89% sebagai hasil dari fermentasi oleh
mikroba Azotobacter.
3) Untuk memenuhi
pupuk bagi tanaman kopi penggunaan biourine dalam aplikasinya lebih mudah
karena dilakukan dengan penyemprotan, dan pada tanaman pohon tidak perlu membuat
lubang pada tanah, tidak banyak memerlukan tenaga, dan harganya relatif lebih
murah.
4) Pengendalian terhadap hama
penyakit yaitu:
a. Hama
Bubuk Buah, penyebab adalah sejenis kumbang kecil, menyerang buah muda dan tua,
pengendalian dengan mekanis yaitu dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang;
b.
Hama Bubuk Cabang (Xyloborus Moliberus),
menyerang/menggerek cabang dan ranting kecil 3-7 dari pucuk kopi, daun menjadi
kuning dan rontok kemudian cabang akan mongering, pengendalian sama seperti
pada hama bubuk buah;
b. Penyakit: penyakit karat daun,
penyebab adalah sejenis Cendawan. Tanda serangan ada bercak-bercak
merah kekuningan pada bagian bawah daun, sedangkan di permukaan daun ada
bercak kuning. Kemudian daun gugur, ujung cabang muda kering dan buah kopi
menjadi hitam kering dan kualitas tidak baik selanjutnya tanaman akan mati.
Dampak lingkungan
yang ditimbulkan dari penggunaan biourine relatif lebih sedikit dibandingkan
penggunaan pukan faeces kambing maupun pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia dan pukan
faeces kambing tanpa melalui pengomposan akan memperlambat proses dekomposisi.
Akibatnya menimbulkan pencemaran lingkungan (udara dan tanah) di sekitar lahan
pertanian. Unsur kimia dari pupuk kimia yang sukar terurai dalam jangka panjang
akan merusak kandungan hara di dalam tanah, struktur tanah menjadi padat dan
tidak subur.
Penggunaan
biourine dapat menjaga kelestarian lingkungan karena komposisi kimia biourine
mudah untuk diserap oleh tanaman dan unsur hara yang terkandung dalam biourine
lebih mudah terurai. Dampak penggunaan
biourine terhadap tanaman kopi tidak memiliki efek merugikan bagi tanaman kopi.
Biourine merupakan pupuk organik cair dapat menjaga struktur organik dan kesuburan
tanah dalam jangka panjang serta mencegah pengikisan tanah.
BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Air kencing (urine) kambing bermanfaat
sebagai pupuk organik cair (biourine) yang memiliki kandungan unsur hara kompleks
antaralain bahan Organik, Nitrogen (N), P2O5, K2O,
CaO. Kandungan unsur hara nitrogen sebesar 1,47% lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk
kandang (kompos padat) dari faeces kambing;
2) Pengaplikasian
air kencing kambing sebagai pupuk organik cair berpotensi meningkatkan
produktivitas tanaman kopi hingga mencapai
30,44% lebih tinggi dari penerapan pupuk kandang dari faeces kambing dan 9,38%
dari pada pupuk kimia (urea);
3) Air
kencing kambing dapat bermanfaat sebagai sebagai pestisida pecegah hama
penyakit pada tanaman kopi serta ramah lingkungan.
4.2 Saran-saran
1)Dengan
mengetahui manfaat air kencing kambing dan kegunaannya sebagai biourine
memiliki kandungan unsur hara yang baik
untuk tanaman kopi disarankan bagi para petani kopi untuk beralih menggunakan
pupuk organik cair dari air kencing kambing (biourine) untuk meningkatkan
produktivitas tanaman kopinya;
2) Diharapkan
kepada para petani untuk beralih menggunakan biourine sebagai pupuk yang ramah
lingkungan dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan dengan tidak
memakai pupuk kimia;
3) Dalam penelitian ini hanya menggunakan air
kencing kambing sebagai biourine, sehingga disarankan pula bagi peneliti lain
untuk meneliti lebih lanjut potensi air kencing kambing maupun hewan ternak
lain serta penerapannya.
DAFTAR PUSTAKA
Admin (2010). Kenaikan harga kopi 2011. Available from: URL:http://coffeetoffee.co.id/2010/11/07/coffee-toffeemitos-kopi-no-1/,
Accessed Agustus 5, 2011.
Asmacs’s. (2008). Budidaya tanaman kopi. Artikel penelitian. from: WordPress.com
weblog. Accessed Agustus 5, 2011.
Balitnah. 2010. Kandungan unsur hara pada ternak. Laporan Penelitian Balai
Penelitian Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian
Universitas Andalas Padang. Available from: URL: Balitnah@indo.net.id, Accessed Agustus 5, 2011.
BPTP Bali. 2010. Laporan penelitian balai pengkajian teknologi pertanian. Available from:
URL:Bptp-bali@litbang.deptan.go.id,
Accessed Agustus 1, 2011.
BPTP dan
Bapeda Provinsi Bali. 2006. Budi daya tanaman kopi. Laporan penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Bapeda
Bali.
Depdiknas. 2010. Kurikulum SMA Negeri 2
Busungbiu Tahun Pelajaran 2010/2011. Dokumen
KTSP. Kabupaten Buleleng (tidak dipublikasikan).
Dikti. 2008. Pedoman umum kompetisi karya
tulis mahasiswa (KKTM) bidang IPA, IPS dan Ilmu Pendidikan. Dikti, Depdiknas,
Jakarta.
Hartatik, W., & Widowati, L.R. Pupuk kandang. Available from: URL:http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/pupuk/pupuk4.pdf,
Accessed Agustus 5, 2011.
Hartatik, W., D Setyorini, L.R, Sri Widati,
U. Jaenudin. 2005. Pengaruh kompos pupuk organik yang diperkaya dengan bahan
mineral dan pupuk hayati terhadap sifat-sifat tanah serapan hara dan produksi sayuran
organik. Laporan penelitian. Proyek
Program Pengembangan Agribisnis Balai Penelitian Tanah (tidak dipublikasikan).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar