PENERAPAN MODEL REKONSTRUKSI PENGETAHUAN KOGNITIF DALAM
SETTING KELAS KOOPERATIF
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
Oleh
I Made Mudiana
SMA NEGERI 2 BUSUNGBIU
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang
bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaikai proses pembelajaran di kelas. Subjek
penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun
pelajaran 2010/2011, dengan jumlah 42 orang. Penelitian ini terdiri dari 2
(dua) siklus dengan tiap-tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Data profil konsepsi siswa dan data hasil belajar siswa
dikumpulkan dengan tes hasil belajar obyektif diperluas (open ended question) yang dilaksanakan pada awal tindakan dan akhir
kedua siklus. Data respon siswa dikumpulkan dengan angket respon yang diberikan
pada akhir siklus II. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) profil konsepsi
siswa sebelum tindakan adalah miskonsepsi sebesar 66,6%, konsepsi ilmiah
sebesar 25,8% dan setelah tindakan miskonsepsi siswa sebesar 13,3% dan konsepsi
ilmiah sebesar 86,7%, 2) rerata test hasil belajar pada siklus I sebesar 57,95
dan siklus II sebesar 72,17, 3) rerata skor respon siswa sebesar 60,98 dengan
kategori sangat positif. Berdasarkan temuan tersebut disimpulkan bahwa
penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Disarankan kepada para pebelajar sains untuk mengkemas pembelajaran yang
berbasis pada model rekonstruksi pengetahuan kognitif untuk mencapai pemahaman
secara mendalam.
Kata Kunci:
model rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK), kooperatif STAD
ABSTRACT
This study was classroom action
based research which had purpose to improve and fix the learning process in the
classroom. The subject of this study was students in class XII IPA 1 in SMA
Negeri 2 Busungbiu in academic year of 2010/2011, with 42 students. This study
was consisted in two cycles. In each cycle, there were plan, action,
observation, and reflection. The data of students profile and learning
achievement were collected by using extended objective test (open ended
question) which applied the first and second action. The data of students
responses were collected in form of questionnaires which were done at the end
of the second cycle. The study result showed that: 1) the students profile
conception before doing action was 66.6%, scientific conception was 86.7%, 2)
the average score for learning achivement test was 57.95 in the first cycle, and
72.17 in the second cycle , 3) the average score of students response was 60.98
with very positive category. Based on those findings, it could be concluded
that the application of cognitive knoowledge reconstruction model in STAD
cooperative classroom setting could improve students learning achievement. It
is expected to the science teacher to manage the learning activity which is
based on cognitive knowledge reconstruction model in order to catch well
understanding.
1. Pendahuluan
Pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 yaitu bertujuan untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab (Dokumen
KTSP, 2007). Sejalan dengan itu, mata pelajaran fisika (sains) yang menjadi bagian
dari ilmu pengetahuan alam (IPA) ditujukan untuk menumbuhkan kompetensi dasar peserta
didik terkait dengan kecerdasan intelektualnya.
Di lain pihak, ada asumsi bahwa mempelajari dan
membelajarkan fisika sangat sulit. Hal ini karena fisika merupakan mata
pelajaran yang berkaitan dengan fenomena alam yang menuntut pengetahuan
hafalan, nalar dan logika matematis. Mempelajari fisika tidak semata-mata
belajar menghafal fakta-fakta, konsep hukum dan dalil-dalil (rote learning). Belajar fisika
membutuhkan olah pikir tingkat tinggi meliputi pemahaman, analisis, evaluasi dan sintesis seperti yang diuraikan dalam taksonomi Bloom. Hal senada juga
dinyatakan oleh Sadia bahwa pembelajaran fisika merupakan pembelajaran yang
meliputi pengetahuan yang sangat kompleks, belajar fisika melibatkan kemampuan
dan keterampilan interprestasi fisis, transformasi besaran dan satuan,
pengetahuan logika matematika dan kemampuan numerasi yang akurat (Sadia, 1995).
Hasil observasi menunjukan, pembelajaran fisika yang
dilaksanakan guru di SMA Negeri 2 Busungbiu selama ini merupakan cara
konvensional. Di kalangaan beberapa guru masih berasumsi bahwa pembelajaran
hanya ditujukan untuk memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), ketercapaian
kurikulum serta hanya berorientasi pada nilai dan target kelulusan UN 100%. Dampak
dari hal tersebut menyebabkan pembelajaran sering melupakan hakikat pebelajar
sebagai manusia yang secara manusiawi memerlukan kebebasan untuk berekspresi,
menuangkan ide-ide kreatifnya, mengaktualisasikan diri dan mengeksplorasi
pengetahuan untuk mendapat pemahaman secara mendalam. Tidak jarang pebelajar
masih enggan mereformasi cara mengajar di kelas dan melakukan trobosan baru, ataupun
mencoba menerapkan model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Paradigma pembelajaran yang dilakukan selama ini, baik
dalam pengemasan pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran sering tidak
sejalan dengan hakikat belajar dan hakikat pembelajaran (Brook & Brook,
1993; Santyasa, 2003). Fenomena tersebut menyebabkan pembelajaran di kelas
banyak mengabaikan kebutuhan pemelajar. Hal ini dipertegas oleh suatu pendapat
yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah menengah ternyata
kebutuhan, tujuan, sikap, minat, dan bakat yang dimiliki oleh setiap siswa
belum mendapatkan pelayanan yang wajar dan efektif (Hendayat & Wasty S.,
1986) terbukti dengan pola pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered).
Pembelajaran konvensional lebih banyak didominasi guru,
yang berimbas pada rendahnya hasil belajar fisika siswa di SMA Negeri 2
Busungbiu. Rendahnya hasil belajar ini terlihat dari daya serap dan ketercapaian
kompetensi dasar mata pelajaran fisika khususnya di kelas XII IPA1 tahun
pelajaran 2009/2010 seperti ditunjukan
pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai
aspek kognitif mata pelajaran fisika
No
|
Semester
|
Aspek Kognitif
|
|
Daya
Serap
|
Ketuntasan
klasikal
|
||
1
|
Ganjil
|
65,0
|
75,0%
|
2
|
Genap
|
66,7
|
100%
|
(Sumber : Dokumen nilai Fisika SMA Negeri 2 Busungbiu)
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa tingkat penguasaan kompetensi
dasar siswa kelas XII IPA1 berada dalam kategori masih rendah. Hal tersebut
sangat jauh dari harapan, dengan diterapkannya KTSP yang menuntut adanya
perubahan dalam proses pembelajaran dari yang cendrung pasif, teoritis,
menghafal fakta-fakta dan berpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang
bersifat aktif, kreatif dan produktif serta berpusat pada peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi awal dikelas XII IPA1,
terdapat berberapa permasalahan pembelajaran fisika yang dihadapi pemelajar
yaitu: 1) terdapat 80% kurang dapat mengerti dan memahami konsep fisika secara
baik, 2) lebih dari 75% mengungkapkan pembelajaran fisika sangat sulit dan
tidak menyenangkan, 3) sebanyak 90% siswa menginginkan pembelajaran fisika
dapat disajikan lebih menarik dan menyenangkan. Observasi terhadap pembelajaran
ditemukan bahwa: 1) proses kegiatan pembelajaran cendrung masih bersifat
konvensional, 2) penguasaan metode dan strategi pembelajaran tergolong masih
sangat kurang, 3) motivasi guru untuk melakukan inovasi dalam proses
pembelajaran sangat tinggi.
Menjawab permasalahan tersebut di atas, peneliti mencoba
menerapkan sebuah model pembelajaran yaitu model rekonstruksi pengetahuan
kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD dalam pembelajaran fisika.
Melalui penerapan MRPK dalam setting kelas
kooperatif STAD diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA1
SMA Negeri 2 Busungbiu pada pokok bahasan gelombang.
Bertolak dari permasalahan pada uraian di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut. (1) Bagaimana profil pengetahuan awal dan miskonsepsi
siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu sebelum tindakan dan profil miskonsepsi
siswa setelah tindakan? (2) Apakah penerpan
model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan kompetensi dasar
aspek kognitif siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu? (3) Bagaimana respon
dan minat siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu terhadap pembelajaran
fisika dengan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD?
Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan profil
pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu sebelum
tindakan dan profil miskonsepsi siswa setelah tindakan (2) Meningkatkan kompetensi
dasar aspek kognitif siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu melalui
penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD (3) Mendeskripsikan minat dan respon siswa
kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu terhadap penerapan model rekonstruksi
pengetahuan kognitif dalam setting
kelas kooperatif STAD.
Melalui penelitian ini diharapkan pembelajaran yang
berbasis pada penerapan MRPK dalam setting kooperatif STAD dapat memberikan manfaat
sebagai berikut. (1) Dapat menumbuhkan respon positif dan minat siswa terhadap
pembelajaran fisika. (2) Hasil pengembangan teks ajar bermuatan MRPK berupa refutational text akan menambah sumber belajar dan perangkat pembelajaran fisika
SMA yang keberadaanya masih sangat langka. (3) pihak sekolah dapat memanfaatkan
penelitian ini sebagai wahana bagi pengembangan model pembelajaran fisika yang
inovatif serta melatih profesionalisme guru.
Model Rekonstruksi Pengetahuan Kognitif (MRPK) memulai dengan
pengusutan interaksi-interaksi antara pebelajar dengan pesan pembelajaran
meliputi beberapa karakteristik individu. Secara skematis dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1 Model
Rekonsruksi Pengetahuan Kognitif
(Dole
& Sinatra, 1998)
Pertama, berkaitan dengan konsepsi-konsepsi
yang dimiliki atau pengetahuan awal berkenaan dengan ide, topik, kejadian, atau
fenomena. Pengetahuan awal dapat memberikan cara pemrosesan informasi baru dan
juga dapat mempengaruhi interprestasi individu dari kejadian-kejadian yang
sama. Tiga kualitas relevan konsepsi yang dimiliki pebelajar yang mempengaruhi
kemungkinan perubahan, yaitu strength,
cohenrece, dan commitment.
Semakin kuat ide yang dimilik, maka semakin kurang adanya kemungkinan proses
perubahan. Semakin kurang koheren konsepsi yang dimiliki, semakin mudah adanya
kemungkinan perubahan sebaliknya individu yang sangat komit terhadap ide yang
dimiliki, individu tersebut semakin kurang suka mengubah idenya (Dole & Sinatra,
1998).
Kedua, adalah motivasi pebelajar
untuk memproses informasi baru. Posner (dalam Santyasa, 1998) menggunakan
istilah disstatisfaction yang
merupakan tonggak untuk munculnya motivasi untuk berubah. Konflik atau
ketidakcocokan muncul dari adanya anomali antara konsep yang dimiliki dengan
data baru (Dole & Sinatra, 1998). Konflik kognitif dapat juga muncul ketika
dua pandangan mengalami kontradiksi satu dengan yang lainnya. Namun individu
dapat pula memiliki motivasi untuk mengubah idenya tanpa harus mengalami
ketidakcocokan ide. Hal ini terjadi apabila individu memiliki suatu
taruhan terhadap hasil, memiliki minat
terhadap suatu topik, secara emosional banyak terlibat dalam suatu topik atau
tugas, memiliki self-efficacy yang
tinggi berkenaan dengan topik dan tugas (Dole & Sinatra, 1998) self-efficacy berpengaruh langsung
terhadap ketekunan, dan juga berpengaruh langsung dan tak langsung terhadap
prestasi (Schunk, 1999).
Ketiga komponen
dari motivasi, adalah konteks sosial. Para siswa mungkin termotivasi memroses
suatu pesan karena kelompok mereka menunjukan perhatian pada suatu topik.
Konteks tersebut dimana pesan dianggap mengandung suatu variasi
variabel-variabel konteks sosial. Interaksi dengan anggota suatu komunititas,
sekolah, kelompok sebaya bisa memotivasi individu untuk memroses informasi.
Teman sebaya berfungsi sebagai sebuah model. Model peniruan teman sebaya (peer coping model) dan model penguasaan
teman sebaya (peer mastery model)
masing-masing berpengaruh positif terhadap self-efficacy,
motivasi, regulasi diri, dan
prestasi (Schunk, 1999).
Jadi pemrosesan informasi dengan keterlibatan metakognisi
tinggi, akan menghasilkan perubahan konseptual yang relatif kuat dan tahan
lama. Tetapi jika pemrosesan informasi melalui keterlibatan kognisi yang
bersifat dangkal, maka perubahan konseptual terjadi relatif lemah, sementara,
dan rentan untuk perubahan lebih lanjut.
Tugas fasilitator adalah menggali dan mengidentifikasi pengetahuan awal
siswa, mengorganisasikan pesan pembelajaran secara optimal, memotivasi siswa,
dan menyediakan lingkungan kelas yang menatang terjadinya prubahan konseptual
secara maksimal. Langkah restrukturisasi ide-ide siswa dilakukan dalam tiga
tahapan: (i) klarifikasi pertukaran ide-ide siswa, (ii) penyajian demonstrasi,
analogi, konfrontasi, dan contoh-contoh tandingan sebagai strategi konflik
kognitif, (iii) restrukturisasi ide-ide baru. Dengan demikian MRPK meupakan model
pembelajaran yang berbasis pengetahuan awal, miskonsepsi, dan pesan-pesan
pembelajaran. Sementara pembelajaran kooperatif STAD yang digunakan sebagai
setting kelas hanya sebagai bentuk strategi pengaktifan kegiatan pembelajaran
yang berbasis pada MRPK.
2. Metode
Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk memperbaiki proses
pembelajaran disekolah tempat dilaksanakan penelitian ini berlangsung pada
semester Ganjil tahun pelajaran 2010/2011, dari bulan Agustus s/d Oktober 2010.
Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA.1 SMA Negeri
2 Busungbiu yang berjumlah 42 orang. Objek dalam
penelitian adalah: (1) frofil konsepsi siswa sebelum tindakan dan sudah
tindakan, (2) kompetensi dasar aspek kognitif siswa yaitu hasil belajar siswa, (3) respon siswa
sebagai asfek afektif terhadap pembelajaran dengan diterapkannya MRPK dengan
setting pembelajaran kooperatif STAD.
Penelitian
kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap
siklusnya terdiri dari tahapan yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3)
observasi/evaluasi, 4) refleksi yang berulang secara siklis (Tantra, 1997). yang
secara skematis di gambarkan sebagai berikut.
Siklus I
Siklus II
Gambar
2 Tahapan dalam siklus pembelajaran
Materi pelajaran yang diangkat adalah pokok bahasan Gejala Gelombang dan
seperti di tunjukan pada tabel 1.
Tabel 1. Materi dan pokok bahasan dalam
kegiatan penelitian
Siklus
|
Materi
|
Waktu
|
I
|
Gejala gelombang
Gejala dan ciri-ciri
gelombang meliputi; pengertian dan jenis gelombang, superposisi gelombang,
Persamaan gelombang berjalan.
|
3 kali pertemuan
(3 x 40 menit)
|
II
|
Sifat fisis gelombang
Gelombang stasioner, Pemantulan,
dan Pembiasan gelombang
|
3 kali pertemuan
(3 x 40 menit)
|
Data profil
konsepsi siswa dan data kompetensi dasar aspek kognitif siswa dikumpulkan
dengan menggunakan tes hasil belajar siswa (open
ended question), repotational text LKS model MRPK, kuis, lembar tugas
(terstruktur dan mandiri). Tes hasil belajar kompetensi dasar aspek kognitif
siswa berbenstuk soal obyektif diperluas (open
ended question) berjumlah 20 butir soal. Respon siswa dikumpulkan dengan
angket respon siswa. Pelaksanaan tes diberikan pada setiap akhir pokok bahasan yaitu
pada akhir kegiatan siklus I dan siklus
II, sementara angket respon diberikan pada akhir siklus II.
Data aspek kognitif (pengetahuan) siswa dianalisis
secara deskriptif, yaitu dengan skor hasil belajar siswa kompetensi dasar aspek
kognitif yang diperoleh melalui pemberian tes hasil belajar di akhir siklus. Setelah
diperoleh skor kognitif siswa (X), selanjutnya dicari skor rata-rata kognitif
siswa (
kognitif) dengan rumus:
(diadaptasi
dari Arikunto, 2003: 371)
Ketuntasan aspek kognitif siswa dapat ditentukan dengan menggunakan
daya serap siswa (DS) dan ketuntasan klasikal (KK).
Siswa dikatakan tuntas jika DS
65% dan satu kelas dikatakan tuntas jika KK
85 %. Penelitian dikatakan berhasil jika
ketuntasan klasikal (KK)
85 %.
Data respon siswa
dikumpulkan dengan kuisioner atau angket tanggapan siswa. Angket yang digunakan
yaitu model skala likert dengan rubrik seperti pada pada tabel 2.
Analisis Jawaban
|
Nilai Item
|
|
Positif
|
Negatif
|
|
Sangat
setuju (SS)
|
5
|
1
|
Setuju
(S)
|
4
|
2
|
Ragu-ragu
(R)
|
3
|
3
|
Kurang
setuju (KS)
|
2
|
4
|
Tidak
setuju (TS)
|
1
|
5
|
(Nurkancana
& Sunartana, 1992)
Skor rata-rata respon siswa dianalisis
dengan rumus:

(Arikunto, 2003: 371)
Data
respon siswa dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor rata-rata (
), mean
ideal (MI), dan standar deviasi ideal (SDI). Penggolongan
respon siswa, ditetapkan berdasarkan lima
jenjang kategori seperti tabel 3.
Tabel
3. Kriteria Penggolongan Respon Siswa
(Nurkancana & Sunartana, 1992)
Keterangan: MI = 1/2 (skor
tertinggi ideal + skor terendah ideal)
SDI = 1/6 (skor tertinggi ideal – skor terendah
ideal)
Skor rerata (
) yang diperoleh dari perhitungan dibandingkan dengan
kriteria penggolongan yang telah ditetapkan seperti tabel 3. Kriteria
keberhasilan untuk respon siswa adalah jika dari analisis diperoleh hasil
minimal positif.
3. Hasil dan Pembahasan
Refleksi awal
Secara umum hasil
pre-test menunjukan pengetahuan awal sebagian besar siswa menyimpang dari
konsep ilmiah (miskonsepsi). Hasil
pemberian pre-test sebelum diadakannya tindakan (siklus 0) terlihat bahwa
persentase siswa yang memiliki konsepsi ilmiah sebesar 25,8%, siswa yang
mengalami miskonsepsi sebesar 66,63% dan 7,90% siswa tidak memberikan jawaban.
Setelah dilaksanakan tindakan hasil post-test pada siklus I didapatkan bahwa
persentase siswa yang memiliki konsepsi ilmiah sebesar 62,1%, siswa yang
mengalami miskonsepsi sebesar 37,3% dan sebesar 0,60% siswa tidak memberikan
jawaban. Sedangkan pada siklus II hasil post-test mendapatkan persentase siswa
yang memiliki konsep ilmiah sebesar 86,7%, siswa yang mengalami miskonsepsi
sebesar 13,3%.
Dari hasil analisis
data profil konsepsi ditemukan bahwa profil konsepsi siswa sebelum tindakan
bervariasi. Sebagian besar konsepsi awal yang dimiliki siswa adalah
miskonsepsi. Data prakonsepsi tersebut dijadikan dasar penyusunan refutational text dan perencanaan
tindakan pada siklus I. Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I terjadi
penurunan miskonsepsi siswa, tetapi masih terdapat siswa yang tidak memberikan
jawaban terhadap permasalahan. Selanjutnya setelah diadakan perbaikan tindakan pada
siklus II, seluruh siswa dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan dan
menujukan jumlah penurunan miskonsepsi yang lebih besar. Profil konsepsi siswa
pada akhir siklus II dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar. 3
Grafik proporsi konsepsi
siswa setelah tindakan ( siklus II )
Secara umum
terlihat bahwa proporsi jumlah siswa kelas XII IPA1 yang mengalami miskonsepsi
mengalami penurunan setelah dilaksanakannya tindakan penerapan model
rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD
sebesar 29,0% setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan 53,0 pada siklus
II.
Gambaran Tindakan Siklus I
Setelah dilaksanakan
pembelajaran dengan MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD, dilaksanakan tes pada
akhir siklus I didapatkan hasil bahwa: rerata nilai kompetensi dasar aspek
kognitif siswa sebesar 57,95, daya serap siswa sebesar 57,95% dengan standar deviasi 9,94. Dari 42 orang siswa 17 orang siswa atau sebesar 40,48% dalam katagori tuntas, 25 orang siswa atau sebesar 59,52% dalam kategori belum tuntas. Secara klasikal ketuntasan belajar
pada siklus I sebesar 40,48%. Dari data tersebut penelitian dikategorikan belum berhasil karena
ketuntasan klasikal masih dibawah 85%.
Secara umum, proses
pembelajaran pada siklus I berlangsung cukup baik, rerata kompetensi dasar
siswa meningkat dari 32,71 menjadi 57.95. Perbaikan
tindakan pada siklus I memberikan peningkatan dibandingkan sebelum penerapan MRPK
dengan setting kelas kooperatif STAD yang mana persentase jumlah siswa yang
belum tuntas sebelum tindakan mencapai 100%.
Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran pada
siklus I, terungkap kendala-kendala sebagai sebagai berikut:
1. Siswa belum mampu beradaptasi dengan
proses pembelajaran pada siklus I. Sebagian siswa masih terbiasa dengan model
pembelajaran konvensional. Hal ini menyebabkan pembelajaran memerlukan waktu
yang banyak karena harus membiasakan siswa dengan MRPK.
2. Siswa belum terbiasa melakukan
diskusi kelompok, siswa masih merasa malu untuk bertanya dan mengeluarkan
pendapat dalam diskusi kelompok. Hal ini menyebabkan terbatasnya adanya variasi
jawaban, terhambatnya shering dan
curah pendapat yang dapat membantu kedalaman pemahaman.
3. Sebagian siswa masih berasumsi
bahwa gurulah yang memiliki tanggung jawab sepenuhnya untuk menyampaikan
materi.
Berdasarkan kendala
tersebut, dilakukan perbaikan tindakan sebagai berikut. 1) Guru menekankan
kembali langkah-langkah pembelajaran mengenai MRPK dalam setting kelas
kooperatif STAD, 2) Menjelaskan aspek-aspek yang terkait dengan penilaian,
penguasaan materi menjadi tanggung jawab bersama anggota dalam kelompok,
menekankan pengerjaan kuiz secara individual dimana nilai secara individual
akan menentukan nilai dan predikat kelompoknya, 3) Guru memperhatikan hasil
penilaian LKS dan kuiz pada siklus I, memberikan predikat pada kelompok sesuai
perolehan rata-rata skor kuiz anggota kelompok dengan harapan setiap individu
dalam kelompok memiliki tanggung jawab dan antar kelompok termotivasi untuk
bersaing secara sportif dalam kegiatan pembelajaran.
Gambaran Tindakan Siklus II
Proses
pembelajaran pada sikulus II disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus I,
dengan melakukan beberapa langkah perbaikan proses pembelajaran. Pada awal pembelajaran yaitu kegiatan
pendahuluan guru menyampaikan tujuan pembelajaran terkait dengan standar
kompetensi dan kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar. Guru
menyampaikan bahwa dalam proses kegiatan pembelajaran masih menerapkan MRPK
dengan setting kelas kooperatif STAD, bahan ajar refotational text.
Selama proses
pembelajaran dalam kegiatan inti, kegiatan pembelajaran pada siklus II dimulai
dengan penyajian guru secara singkat dilanjutkan dengan mengadakan apersepsi
dan presensi serta memberikan motivasi kepada siswa untuk menelaah isi refotational text dan kegiatan belajar
siswa dipandu dengan LKS. Kegiatan pembelajaran pada tahap inti terbagi dalam
tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sesuai dengan isi refotational
text. Hampir seluruh siswa dapat
mengikuti kegiatan pembelajaran secara baik, anggota kelompok aktif berdiskusi.
Berdasarkan hasil analisis
data hasil tes siklus II didapatkan hasil bahwa: nilai rata-rata kompetensi
dasar aspek kognitif siswa kelas XII IPA.1 sebesar 72,17 sehingga daya serap siswa adalah 72,17% dengan standar deviasi 8,33. Sebaran ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II ditunjukan
pada tabel 5.
Tabel 5 Sebaran ketuntasan hasil belajar siswa siklus II
Jumlah
siswa
|
Kategori
|
Persentase
|
42
|
Tuntas
|
100,00%
|
0
|
Tidak
tuntas
|
0,00%
|
Berdasarkan data
tabel 5, penelitian tindakan telah mencapai kategori keberhasilan, karena daya
serap siswa (DS) lebuh besar atau sama dengan 65% dan ketuntasan klasikal (KK) lebih besar atau sama denga 85 %.
Setelah diadakan
perbaikan langkah kegiatan pembelajaran pada siklus II, pencapaian nilai
kompetensi dasar aspek kognitif siswa, proses pembelajaran pada siklus II
dengan penerapan MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD berlangsung dengan
baik. Rerata hasil belajar siswa meningkat dari 57,95 menjadi 72,17). Pada
pelaksanaan tindakan selama kegiatan pembelajaran siklus II didapat temuan sebagai
berikut.
1) Siswa sudah mampu mengikuti dan
beradaptasi dengan langkah-langkah pembelajaran dengan model rekonstruksi
pengetahuan kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD. Siswa mulai
meninggalkan pola belajar konvensional yaitu tidak lagi menunggu penjelasan
dari guru, ketika menghadapi sebuah masalah siswa secara spontan membentuk
kelompok dan melakukan diskusi.
2) Guru memiliki peran lebih
sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif selama kegiatan pembelajaran
sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan siswa sebagai
pebelajar.
3) Siswa merasa bebas dan senang
mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suasana demokratis yang dilakukan melalui
diskusi kelompok dimana mereka dapat saling mengisi satu sama lainnya untuk
memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari.
Berdasarkan analisis data angket respon siswa yang
dilaksanakan pada akhir siklus II diperoleh rerata sebesar 60,98 dengan standar
deviasi 5,57. Proporsi sebaran skor respon siswa dapat dilihat pada grafik gambar
4.
Keterangan : ( Cukup Positif = 4,76%, Positif = 28,57%, Sangat Positif = 66,67%)
Gambar 4. Grafik proporsi
respon siswa
Dari gambar 4, secara umum terlihat bahwa respon siswa terhadap kegiatan
pembelajaran selaras dengan rerata nilai respon yang dicapai sebesar 60,98 termasuk dalam kategori sangat positif.
4. Penutup
Berdasarkan rumusan masalah
dan hasil analisis data penelitian tindakan kelas ini dapat ditarik simpulan
sebagai berikut.
1) Profil pengetahuan awal siswa
kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok
bahasan gejala gelombang sangat bervariasi. Persentase siswa yang mengalami
miskonsepsi setelah tindakan mengalami penurunan.
2) Penerpan Model Rekonstruksi
Pengetahuan Kognitif dalam setting
kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan kompetensi dasar fisika aspek kognitif
siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011.
3) Respon dan minat siswa kelas XII
IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011 terhadap pembelajaran
fisika dengan Model Rekonstruksi Pengetahuan Kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD tergolong sangat
positif.
Berdasarkan temuan-temuan yang
didapat dalam penelitian ini dapat disampaikan sejumlah saran, sebagai berikut.
1) Sebagai guru
hendaknya menggunakan salah satu model pembelajaran inovatif sebagai salah satu
alternatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya dalam
pembelajaran fisika untuk mengurangi dominasi guru dalam pembelajaran, hendaknya
pembelajaran lebih memberikan kebebasan kepada siswa untuk dapat menemukan
pengetahuan dimana peran guru hanya sebagai mediator dan fasilitator.
2) Penelitian
ini terbatas pada materi Gelombang
sehingga disarankan untuk memperluas kajian materi pelajaran fisika atau
pelajaran yang lain ataupun menguji ulang penerapan MRPK dalam pembelajaran
pada kelas yang lain dengan maksud untuk mengidentifikasikan profil kelas yang
cocok.
3) Menginngat
keterbatasan kemampuan peneliti, dalam penelitian ini terbatas mengkaji
kompetensi dasar aspek kognitif siswa, dan respon siswa sehingga disarankan memperluas
kajian aspek lainnya.
Daftar
Pustaka
Arikunto, S. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara.
Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), SMA Negeri 2 Busungbiu: Dokumen
Kurikulum 2007 (tidak diterbitkan).
Depdiknas. 2007. Dokumen nilai fisika tahun pelajaran
2008/2009, Arsip. 2007 (tidak
diterbitkan).
Dole, J. A. & Sinatra, G.M. 1998. Reconceptualizing change in
the cognitive construction of knowledge. Educational
Psichologist, 33(2/3), 109-128.
Hendayat, S., & Wsty, S. 1986. Pembinaan dan pengembangan kurikulum. Jakarta: Bina Aksara.
Nurkancana, I W., & Sunartana, P. P.
N. 1992. Evaluasi hasil belajar. Surabaya: Usaha Nasional
Sadia, I W. 1995. Pendekatan konstruktivisme
dalam pembelajaran IPA. Makalah.
Disajikan dalam seminar Fisika. Program Studi Pendidikan Fisika (tidak
diterbitkan)
Santyasa, I W. 2003. Pengaruh model pembelajaran
perubahan konseptual dalam belajar kooperatif terhadap remidiasi miskonsepsi
dan hasil belajar fisika siswa kelas I SMU. Profosal
penelitian disertasi. Disajikan dalam seminar kualifikasi lisan program
doktor Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang,
tanggal 26 Maret 2003 di UM (tidak diterbitkan)
Schunk, Dale H. 1999. Social-self interaction and
achivement behavior. Educational
Psychology, 34(4), 219-227.
Tantra, D.K. 1997. Penelitian Tindakan, Konsep
Dasar dan Pelaksanaannya. Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
(P3M) STKIP Singaraja







Tidak ada komentar:
Posting Komentar