Senin, 17 Oktober 2011

Artikel Masuk Sebagai Finalis Harapan I ( PKIG Biologi UNDIKSHA 2010 )




PENERAPAN MODEL REKONSTRUKSI PENGETAHUAN KOGNITIF DALAM SETTING KELAS KOOPERATIF
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

Oleh
I Made Mudiana
SMA NEGERI 2 BUSUNGBIU

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaikai proses pembelajaran di kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011, dengan jumlah 42 orang. Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) siklus dengan tiap-tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data profil konsepsi siswa dan data hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar obyektif diperluas (open ended question) yang dilaksanakan pada awal tindakan dan akhir kedua siklus. Data respon siswa dikumpulkan dengan angket respon yang diberikan pada akhir siklus II. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) profil konsepsi siswa sebelum tindakan adalah miskonsepsi sebesar 66,6%, konsepsi ilmiah sebesar 25,8% dan setelah tindakan miskonsepsi siswa sebesar 13,3% dan konsepsi ilmiah sebesar 86,7%, 2) rerata test hasil belajar pada siklus I sebesar 57,95 dan siklus II sebesar 72,17, 3) rerata skor respon siswa sebesar 60,98 dengan kategori sangat positif. Berdasarkan temuan tersebut disimpulkan bahwa penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Disarankan kepada para pebelajar sains untuk mengkemas pembelajaran yang berbasis pada model rekonstruksi pengetahuan kognitif untuk mencapai pemahaman secara mendalam.

Kata Kunci: model rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK), kooperatif STAD

ABSTRACT

            This study was classroom action based research which had purpose to improve and fix the learning process in the classroom. The subject of this study was students in class XII IPA 1 in SMA Negeri 2 Busungbiu in academic year of 2010/2011, with 42 students. This study was consisted in two cycles. In each cycle, there were plan, action, observation, and reflection. The data of students profile and learning achievement were collected by using extended objective test (open ended question) which applied the first and second action. The data of students responses were collected in form of questionnaires which were done at the end of the second cycle. The study result showed that: 1) the students profile conception before doing action was 66.6%, scientific conception was 86.7%, 2) the average score for learning achivement test was 57.95 in the first cycle, and 72.17 in the second cycle , 3) the average score of students response was 60.98 with very positive category. Based on those findings, it could be concluded that the application of cognitive knoowledge reconstruction model in STAD cooperative classroom setting could improve students learning achievement. It is expected to the science teacher to manage the learning activity which is based on cognitive knowledge reconstruction model in order to catch well understanding.

Key words: cognitive  knowledge reconstruction model, STAD cooperative

 

1. Pendahuluan
Pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 yaitu bertujuan untuk menumbuhkembangkan  potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Dokumen KTSP, 2007). Sejalan dengan itu, mata pelajaran fisika (sains) yang menjadi bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) ditujukan untuk menumbuhkan kompetensi dasar peserta didik terkait dengan kecerdasan intelektualnya.
Di lain pihak, ada asumsi bahwa mempelajari dan membelajarkan fisika sangat sulit. Hal ini karena fisika merupakan mata pelajaran yang berkaitan dengan fenomena alam yang menuntut pengetahuan hafalan, nalar dan logika matematis. Mempelajari fisika tidak semata-mata belajar menghafal fakta-fakta, konsep hukum dan dalil-dalil (rote learning). Belajar fisika membutuhkan olah pikir tingkat tinggi meliputi pemahaman, analisis, evaluasi dan sintesis seperti yang diuraikan dalam taksonomi Bloom. Hal senada juga dinyatakan oleh Sadia bahwa pembelajaran fisika merupakan pembelajaran yang meliputi pengetahuan yang sangat kompleks, belajar fisika melibatkan kemampuan dan keterampilan interprestasi fisis, transformasi besaran dan satuan, pengetahuan logika matematika dan kemampuan numerasi yang akurat (Sadia, 1995).
Hasil observasi menunjukan, pembelajaran fisika yang dilaksanakan guru di SMA Negeri 2 Busungbiu selama ini merupakan cara konvensional. Di kalangaan beberapa guru masih berasumsi bahwa pembelajaran hanya ditujukan untuk memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), ketercapaian kurikulum serta hanya berorientasi pada nilai dan target kelulusan UN 100%. Dampak dari hal tersebut menyebabkan pembelajaran sering melupakan hakikat pebelajar sebagai manusia yang secara manusiawi memerlukan kebebasan untuk berekspresi, menuangkan ide-ide kreatifnya, mengaktualisasikan diri dan mengeksplorasi pengetahuan untuk mendapat pemahaman secara mendalam. Tidak jarang pebelajar masih enggan mereformasi cara mengajar di kelas dan melakukan trobosan baru, ataupun mencoba menerapkan model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Paradigma pembelajaran yang dilakukan selama ini, baik dalam pengemasan pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran sering tidak sejalan dengan hakikat belajar dan hakikat pembelajaran (Brook & Brook, 1993; Santyasa, 2003). Fenomena tersebut menyebabkan pembelajaran di kelas banyak mengabaikan kebutuhan pemelajar. Hal ini dipertegas oleh suatu pendapat yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah menengah ternyata kebutuhan, tujuan, sikap, minat, dan bakat yang dimiliki oleh setiap siswa belum mendapatkan pelayanan yang wajar dan efektif (Hendayat & Wasty S., 1986) terbukti dengan pola pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered).
Pembelajaran konvensional lebih banyak didominasi guru, yang berimbas pada rendahnya hasil belajar fisika siswa di SMA Negeri 2 Busungbiu. Rendahnya hasil belajar ini terlihat dari daya serap dan ketercapaian kompetensi dasar mata pelajaran fisika khususnya di kelas XII IPA1 tahun pelajaran 2009/2010 seperti ditunjukan pada tabel 1.
Tabel 1.  Nilai aspek kognitif mata pelajaran fisika
No
Semester
Aspek Kognitif
Daya Serap
Ketuntasan klasikal
1
Ganjil
65,0
75,0%
2
Genap
66,7
 100%
(Sumber : Dokumen nilai Fisika SMA Negeri 2 Busungbiu)
Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa tingkat penguasaan kompetensi dasar siswa kelas XII IPA1 berada dalam kategori masih rendah. Hal tersebut sangat jauh dari harapan, dengan diterapkannya KTSP yang menuntut adanya perubahan dalam proses pembelajaran dari yang cendrung pasif, teoritis, menghafal fakta-fakta dan berpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif dan produktif serta berpusat pada peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi awal dikelas XII IPA1, terdapat berberapa permasalahan pembelajaran fisika yang dihadapi pemelajar yaitu: 1) terdapat 80% kurang dapat mengerti dan memahami konsep fisika secara baik, 2) lebih dari 75% mengungkapkan pembelajaran fisika sangat sulit dan tidak menyenangkan, 3) sebanyak 90% siswa menginginkan pembelajaran fisika dapat disajikan lebih menarik dan menyenangkan. Observasi terhadap pembelajaran ditemukan bahwa: 1) proses kegiatan pembelajaran cendrung masih bersifat konvensional, 2) penguasaan metode dan strategi pembelajaran tergolong masih sangat kurang, 3) motivasi guru untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran sangat tinggi.
Menjawab permasalahan tersebut di atas, peneliti mencoba menerapkan sebuah model pembelajaran yaitu model rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD dalam pembelajaran fisika. Melalui penerapan MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu pada pokok bahasan gelombang.
Bertolak dari permasalahan pada uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut. (1) Bagaimana profil pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu sebelum tindakan dan profil miskonsepsi siswa setelah tindakan?  (2) Apakah penerpan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan kompetensi dasar aspek kognitif siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu? (3) Bagaimana respon dan minat siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu terhadap pembelajaran fisika dengan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD?
Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan profil pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu sebelum tindakan dan profil miskonsepsi siswa setelah tindakan (2) Meningkatkan kompetensi dasar aspek kognitif siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu melalui penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD (3) Mendeskripsikan minat dan respon siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu terhadap penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD.
Melalui penelitian ini diharapkan pembelajaran yang berbasis pada penerapan MRPK dalam setting kooperatif STAD dapat memberikan manfaat sebagai berikut. (1) Dapat menumbuhkan respon positif dan minat siswa terhadap pembelajaran fisika. (2) Hasil pengembangan teks ajar bermuatan MRPK berupa refutational text akan menambah sumber belajar dan perangkat pembelajaran fisika SMA yang keberadaanya masih sangat langka. (3) pihak sekolah dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai wahana bagi pengembangan model pembelajaran fisika yang inovatif serta melatih profesionalisme guru.
Model Rekonstruksi Pengetahuan Kognitif (MRPK) memulai dengan pengusutan interaksi-interaksi antara pebelajar dengan pesan pembelajaran meliputi beberapa karakteristik individu. Secara skematis dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1 Model Rekonsruksi Pengetahuan Kognitif
(Dole & Sinatra, 1998)

Pertama, berkaitan dengan konsepsi-konsepsi yang dimiliki atau pengetahuan awal berkenaan dengan ide, topik, kejadian, atau fenomena. Pengetahuan awal dapat memberikan cara pemrosesan informasi baru dan juga dapat mempengaruhi interprestasi individu dari kejadian-kejadian yang sama. Tiga kualitas relevan konsepsi yang dimiliki pebelajar yang mempengaruhi kemungkinan perubahan, yaitu strength, cohenrece, dan commitment. Semakin kuat ide yang dimilik, maka semakin kurang adanya kemungkinan proses perubahan. Semakin kurang koheren konsepsi yang dimiliki, semakin mudah adanya kemungkinan perubahan sebaliknya individu yang sangat komit terhadap ide yang dimiliki, individu tersebut semakin kurang suka mengubah idenya (Dole & Sinatra, 1998).
            Kedua, adalah motivasi pebelajar untuk memproses informasi baru. Posner (dalam Santyasa, 1998) menggunakan istilah disstatisfaction yang merupakan tonggak untuk munculnya motivasi untuk berubah. Konflik atau ketidakcocokan muncul dari adanya anomali antara konsep yang dimiliki dengan data baru (Dole & Sinatra, 1998). Konflik kognitif dapat juga muncul ketika dua pandangan mengalami kontradiksi satu dengan yang lainnya. Namun individu dapat pula memiliki motivasi untuk mengubah idenya tanpa harus mengalami ketidakcocokan ide. Hal ini terjadi apabila individu memiliki suatu taruhan  terhadap hasil, memiliki minat terhadap suatu topik, secara emosional banyak terlibat dalam suatu topik atau tugas, memiliki self-efficacy yang tinggi berkenaan dengan topik dan tugas (Dole & Sinatra, 1998) self-efficacy berpengaruh langsung terhadap ketekunan, dan juga berpengaruh langsung dan tak langsung terhadap prestasi (Schunk, 1999).
          Ketiga komponen dari motivasi, adalah konteks sosial. Para siswa mungkin termotivasi memroses suatu pesan karena kelompok mereka menunjukan perhatian pada suatu topik. Konteks tersebut dimana pesan dianggap mengandung suatu variasi variabel-variabel konteks sosial. Interaksi dengan anggota suatu komunititas, sekolah, kelompok sebaya bisa memotivasi individu untuk memroses informasi. Teman sebaya berfungsi sebagai sebuah model. Model peniruan teman sebaya (peer coping model) dan model penguasaan teman sebaya (peer mastery model) masing-masing berpengaruh positif terhadap self-efficacy,  motivasi, regulasi diri, dan prestasi (Schunk, 1999).
            Jadi pemrosesan informasi dengan keterlibatan metakognisi tinggi, akan menghasilkan perubahan konseptual yang relatif kuat dan tahan lama. Tetapi jika pemrosesan informasi melalui keterlibatan kognisi yang bersifat dangkal, maka perubahan konseptual terjadi relatif lemah, sementara, dan rentan untuk perubahan lebih lanjut.  Tugas fasilitator adalah menggali dan mengidentifikasi pengetahuan awal siswa, mengorganisasikan pesan pembelajaran secara optimal, memotivasi siswa, dan menyediakan lingkungan kelas yang menatang terjadinya prubahan konseptual secara maksimal. Langkah restrukturisasi ide-ide siswa dilakukan dalam tiga tahapan: (i) klarifikasi pertukaran ide-ide siswa, (ii) penyajian demonstrasi, analogi, konfrontasi, dan contoh-contoh tandingan sebagai strategi konflik kognitif, (iii) restrukturisasi ide-ide baru. Dengan demikian MRPK meupakan model pembelajaran yang berbasis pengetahuan awal, miskonsepsi, dan pesan-pesan pembelajaran. Sementara pembelajaran kooperatif STAD yang digunakan sebagai setting kelas hanya sebagai bentuk strategi pengaktifan kegiatan pembelajaran yang berbasis pada MRPK.

2. Metode Penelitian
               Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran disekolah tempat dilaksanakan penelitian ini berlangsung pada semester Ganjil tahun pelajaran 2010/2011, dari bulan Agustus s/d Oktober 2010.
Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA.1 SMA Negeri 2 Busungbiu yang berjumlah 42 orang. Objek dalam penelitian adalah: (1) frofil konsepsi siswa sebelum tindakan dan sudah tindakan, (2) kompetensi dasar aspek kognitif siswa yaitu hasil belajar siswa, (3) respon siswa sebagai asfek afektif terhadap pembelajaran dengan diterapkannya MRPK dengan setting pembelajaran kooperatif STAD.
Penelitian kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklusnya terdiri dari tahapan yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) observasi/evaluasi, 4) refleksi yang berulang secara siklis (Tantra, 1997). yang secara skematis di gambarkan sebagai berikut.


                                  Siklus I                               Siklus II
Gambar 2 Tahapan dalam siklus pembelajaran

               Materi pelajaran yang diangkat adalah pokok bahasan Gejala Gelombang dan  seperti di tunjukan pada tabel 1. 

                        Tabel 1. Materi dan pokok bahasan dalam kegiatan penelitian
 
Siklus
Materi
Waktu
I
Gejala gelombang
Gejala dan ciri-ciri gelombang meliputi; pengertian dan jenis gelombang, superposisi gelombang, Persamaan gelombang berjalan.
3 kali pertemuan
(3 x 40 menit)
II
Sifat fisis gelombang
Gelombang stasioner, Pemantulan, dan Pembiasan gelombang
3 kali pertemuan
(3 x 40 menit)
              
               Data profil konsepsi siswa dan data kompetensi dasar aspek kognitif siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar siswa (open ended question), repotational text LKS model MRPK, kuis, lembar tugas (terstruktur dan mandiri). Tes hasil belajar kompetensi dasar aspek kognitif siswa berbenstuk soal obyektif diperluas (open ended question) berjumlah 20 butir soal. Respon siswa dikumpulkan dengan angket respon siswa. Pelaksanaan tes diberikan pada setiap akhir pokok bahasan yaitu pada akhir kegiatan  siklus I dan siklus II, sementara angket respon diberikan pada akhir siklus II.
               Data aspek kognitif (pengetahuan) siswa dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan skor hasil belajar siswa kompetensi dasar aspek kognitif yang diperoleh melalui pemberian tes hasil belajar di akhir siklus. Setelah diperoleh skor kognitif siswa (X), selanjutnya dicari skor rata-rata kognitif siswa (kognitif) dengan rumus:
                 (diadaptasi dari Arikunto, 2003: 371)


Ketuntasan aspek kognitif siswa dapat ditentukan dengan menggunakan daya serap siswa (DS) dan ketuntasan klasikal (KK).
Siswa dikatakan tuntas jika DS  65% dan satu kelas dikatakan tuntas jika KK  85 %. Penelitian dikatakan berhasil jika ketuntasan klasikal (KK)   85 %.
               Data respon siswa dikumpulkan dengan kuisioner atau angket tanggapan siswa. Angket yang digunakan yaitu model skala likert dengan rubrik seperti pada pada tabel 2.

                   Tabel 2. Kriteria Pemberian Skor Respon Siswa
 
Analisis Jawaban
Nilai Item
Positif
Negatif
Sangat setuju (SS)
5
1
Setuju (S)
4
2
Ragu-ragu (R)
3
3
Kurang setuju (KS)
2
4
Tidak setuju (TS)
1
5
                                                            (Nurkancana & Sunartana, 1992)
Skor rata-rata respon siswa dianalisis dengan rumus:

(Arikunto, 2003: 371)

               Data respon siswa dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor rata-rata (), mean ideal (MI), dan standar deviasi ideal (SDI). Penggolongan respon siswa, ditetapkan berdasarkan lima jenjang kategori seperti tabel 3.

Tabel 3. Kriteria Penggolongan Respon Siswa
                                                                                                              (Nurkancana & Sunartana, 1992)


Keterangan:     MI       = 1/2 (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal)
SDI     = 1/6 (skor tertinggi ideal – skor terendah ideal)
               Skor rerata () yang diperoleh dari perhitungan dibandingkan dengan kriteria penggolongan yang telah ditetapkan seperti tabel 3. Kriteria keberhasilan untuk respon siswa adalah jika dari analisis diperoleh hasil minimal positif.

3. Hasil dan Pembahasan
Refleksi awal
            Secara umum hasil pre-test menunjukan pengetahuan awal sebagian besar siswa menyimpang dari konsep ilmiah (miskonsepsi). Hasil pemberian pre-test sebelum diadakannya tindakan (siklus 0) terlihat bahwa persentase siswa yang memiliki konsepsi ilmiah sebesar 25,8%, siswa yang mengalami miskonsepsi sebesar 66,63% dan 7,90% siswa tidak memberikan jawaban. Setelah dilaksanakan tindakan hasil post-test pada siklus I didapatkan bahwa persentase siswa yang memiliki konsepsi ilmiah sebesar 62,1%, siswa yang mengalami miskonsepsi sebesar 37,3% dan sebesar 0,60% siswa tidak memberikan jawaban. Sedangkan pada siklus II hasil post-test mendapatkan persentase siswa yang memiliki konsep ilmiah sebesar 86,7%, siswa yang mengalami miskonsepsi sebesar 13,3%.
            Dari hasil analisis data profil konsepsi ditemukan bahwa profil konsepsi siswa sebelum tindakan bervariasi. Sebagian besar konsepsi awal yang dimiliki siswa adalah miskonsepsi. Data prakonsepsi tersebut dijadikan dasar penyusunan refutational text dan perencanaan tindakan pada siklus I. Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I terjadi penurunan miskonsepsi siswa, tetapi masih terdapat siswa yang tidak memberikan jawaban terhadap permasalahan. Selanjutnya setelah diadakan perbaikan tindakan pada siklus II, seluruh siswa dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan dan menujukan jumlah penurunan miskonsepsi yang lebih besar. Profil konsepsi siswa pada akhir siklus II dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar. 3
Grafik proporsi konsepsi siswa setelah tindakan ( siklus II )

 
            Secara umum terlihat bahwa proporsi jumlah siswa kelas XII IPA1 yang mengalami miskonsepsi mengalami penurunan setelah dilaksanakannya tindakan penerapan model rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD sebesar 29,0% setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan 53,0 pada siklus II.

Gambaran Tindakan Siklus I
               Setelah dilaksanakan pembelajaran dengan MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD, dilaksanakan tes pada akhir siklus I didapatkan hasil bahwa: rerata nilai kompetensi dasar aspek kognitif siswa sebesar 57,95, daya serap siswa sebesar 57,95% dengan standar deviasi 9,94. Dari 42 orang siswa 17 orang siswa atau sebesar 40,48% dalam katagori tuntas, 25 orang siswa atau sebesar 59,52% dalam kategori belum tuntas. Secara klasikal ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 40,48%. Dari data tersebut penelitian dikategorikan belum berhasil karena ketuntasan klasikal masih dibawah 85%.
            Secara umum, proses pembelajaran pada siklus I berlangsung cukup baik, rerata kompetensi dasar siswa meningkat dari 32,71 menjadi 57.95. Perbaikan tindakan pada siklus I memberikan peningkatan dibandingkan sebelum penerapan MRPK dengan setting kelas kooperatif STAD yang mana persentase jumlah siswa yang belum tuntas sebelum tindakan mencapai 100%.
Berdasarkan hasil observasi proses pembelajaran pada siklus I, terungkap kendala-kendala sebagai sebagai berikut:
1. Siswa belum mampu beradaptasi dengan proses pembelajaran pada siklus I. Sebagian siswa masih terbiasa dengan model pembelajaran konvensional. Hal ini menyebabkan pembelajaran memerlukan waktu yang banyak karena harus membiasakan siswa dengan MRPK.
2. Siswa belum terbiasa melakukan diskusi kelompok, siswa masih merasa malu untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat dalam diskusi kelompok. Hal ini menyebabkan terbatasnya adanya variasi jawaban, terhambatnya shering dan curah pendapat yang dapat membantu kedalaman pemahaman.
3. Sebagian siswa masih berasumsi bahwa gurulah yang memiliki tanggung jawab sepenuhnya untuk menyampaikan materi.
            Berdasarkan kendala tersebut, dilakukan perbaikan tindakan sebagai berikut. 1) Guru menekankan kembali langkah-langkah pembelajaran mengenai MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD, 2) Menjelaskan aspek-aspek yang terkait dengan penilaian, penguasaan materi menjadi tanggung jawab bersama anggota dalam kelompok, menekankan pengerjaan kuiz secara individual dimana nilai secara individual akan menentukan nilai dan predikat kelompoknya, 3) Guru memperhatikan hasil penilaian LKS dan kuiz pada siklus I, memberikan predikat pada kelompok sesuai perolehan rata-rata skor kuiz anggota kelompok dengan harapan setiap individu dalam kelompok memiliki tanggung jawab dan antar kelompok termotivasi untuk bersaing secara sportif dalam kegiatan pembelajaran.

Gambaran Tindakan Siklus II
               Proses pembelajaran pada sikulus II disesuaikan dengan hasil refleksi pada siklus I, dengan melakukan beberapa langkah perbaikan proses pembelajaran.      Pada awal pembelajaran yaitu kegiatan pendahuluan guru menyampaikan tujuan pembelajaran terkait dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar. Guru menyampaikan bahwa dalam proses kegiatan pembelajaran masih menerapkan MRPK dengan setting kelas kooperatif STAD, bahan ajar refotational text.
               Selama proses pembelajaran dalam kegiatan inti, kegiatan pembelajaran pada siklus II dimulai dengan penyajian guru secara singkat dilanjutkan dengan mengadakan apersepsi dan presensi serta memberikan motivasi kepada siswa untuk menelaah isi refotational text dan kegiatan belajar siswa dipandu dengan LKS. Kegiatan pembelajaran pada tahap inti terbagi dalam tahapan yaitu eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sesuai dengan isi refotational text. Hampir seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara baik, anggota kelompok aktif berdiskusi.
               Berdasarkan hasil analisis data hasil tes siklus II didapatkan hasil bahwa: nilai rata-rata kompetensi dasar aspek kognitif siswa kelas XII IPA.1 sebesar 72,17 sehingga daya serap siswa adalah 72,17% dengan standar deviasi 8,33. Sebaran ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II ditunjukan pada tabel 5.


                             Tabel 5 Sebaran ketuntasan hasil belajar siswa siklus II

Jumlah siswa
Kategori
Persentase
42
Tuntas
100,00%
0
Tidak tuntas
0,00%


               Berdasarkan data tabel 5, penelitian tindakan telah mencapai kategori keberhasilan, karena daya serap siswa (DS) lebuh besar atau sama dengan 65% dan ketuntasan klasikal (KK) lebih besar atau sama denga 85 %.
            Setelah diadakan perbaikan langkah kegiatan pembelajaran pada siklus II, pencapaian nilai kompetensi dasar aspek kognitif siswa, proses pembelajaran pada siklus II dengan penerapan MRPK dalam setting kelas kooperatif STAD berlangsung dengan baik. Rerata hasil belajar siswa meningkat dari 57,95 menjadi 72,17). Pada pelaksanaan tindakan selama kegiatan pembelajaran siklus II didapat temuan sebagai berikut.
1)    Siswa sudah mampu mengikuti dan beradaptasi dengan langkah-langkah pembelajaran dengan model rekonstruksi pengetahuan kognitif (MRPK) dalam setting kelas kooperatif STAD. Siswa mulai meninggalkan pola belajar konvensional yaitu tidak lagi menunggu penjelasan dari guru, ketika menghadapi sebuah masalah siswa secara spontan membentuk kelompok dan melakukan diskusi.
2)    Guru memiliki peran lebih sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif selama kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan siswa sebagai pebelajar.
3)   Siswa merasa bebas dan senang mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suasana demokratis yang dilakukan melalui diskusi kelompok dimana mereka dapat saling mengisi satu sama lainnya untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari.
Berdasarkan analisis data angket respon siswa yang dilaksanakan pada akhir siklus II diperoleh rerata sebesar 60,98 dengan standar deviasi 5,57. Proporsi sebaran skor respon siswa dapat dilihat pada grafik gambar 4.
   
Keterangan : ( Cukup Positif = 4,76%, Positif = 28,57%, Sangat Positif = 66,67%)

Gambar 4. Grafik proporsi respon siswa

Dari gambar 4, secara umum terlihat bahwa respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran selaras dengan rerata nilai respon yang dicapai sebesar 60,98 termasuk dalam kategori sangat positif.


4. Penutup
Berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis data penelitian tindakan kelas ini dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1) Profil pengetahuan awal siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan gejala gelombang sangat bervariasi. Persentase siswa yang mengalami miskonsepsi setelah tindakan mengalami penurunan.
2) Penerpan Model Rekonstruksi Pengetahuan Kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD dapat meningkatkan kompetensi dasar fisika aspek kognitif siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011.
3) Respon dan minat siswa kelas XII IPA1 SMA Negeri 2 Busungbiu tahun pelajaran 2010/2011 terhadap pembelajaran fisika dengan Model Rekonstruksi Pengetahuan Kognitif dalam setting kelas kooperatif STAD tergolong sangat positif.
Berdasarkan temuan-temuan yang didapat dalam penelitian ini dapat disampaikan sejumlah saran, sebagai berikut.
1) Sebagai guru hendaknya menggunakan salah satu model pembelajaran inovatif sebagai salah satu alternatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya dalam pembelajaran fisika untuk mengurangi dominasi guru dalam pembelajaran, hendaknya pembelajaran lebih memberikan kebebasan kepada siswa untuk dapat menemukan pengetahuan dimana peran guru hanya sebagai mediator dan fasilitator.
2) Penelitian ini terbatas pada materi Gelombang sehingga disarankan untuk memperluas kajian materi pelajaran fisika atau pelajaran yang lain ataupun menguji ulang penerapan MRPK dalam pembelajaran pada kelas yang lain dengan maksud untuk mengidentifikasikan profil kelas yang cocok.
3) Menginngat keterbatasan kemampuan peneliti, dalam penelitian ini terbatas mengkaji kompetensi dasar aspek kognitif siswa, dan respon siswa sehingga disarankan memperluas kajian aspek lainnya.
 


Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Bumi Aksara.

Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),  SMA Negeri 2 Busungbiu: Dokumen Kurikulum 2007 (tidak diterbitkan).
Depdiknas. 2007. Dokumen nilai fisika tahun pelajaran 2008/2009, Arsip. 2007 (tidak diterbitkan).
Dole, J. A. & Sinatra, G.M. 1998. Reconceptualizing change in the cognitive construction of knowledge. Educational Psichologist, 33(2/3), 109-128.
Hendayat, S., & Wsty, S. 1986. Pembinaan dan pengembangan kurikulum. Jakarta: Bina Aksara.
Nurkancana, I W., & Sunartana, P. P. N. 1992. Evaluasi hasil belajar. Surabaya: Usaha Nasional
Sadia, I W. 1995. Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. Makalah. Disajikan dalam seminar Fisika. Program Studi Pendidikan Fisika (tidak diterbitkan)
Santyasa, I W. 2003. Pengaruh model pembelajaran perubahan konseptual dalam belajar kooperatif terhadap remidiasi miskonsepsi dan hasil belajar fisika siswa kelas I SMU. Profosal penelitian disertasi. Disajikan dalam seminar kualifikasi lisan program doktor Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, tanggal 26 Maret 2003 di UM (tidak diterbitkan)
Schunk, Dale H. 1999. Social-self interaction and achivement behavior. Educational Psychology, 34(4), 219-227.
Tantra, D.K. 1997. Penelitian Tindakan, Konsep Dasar dan Pelaksanaannya. Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) STKIP Singaraja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar